"Kebanggan kita yang terbesar bukan karena tidak pernah gagal, namun bangkit kembali setiap kita jatuh" (Confusius)

Monday, January 12, 2015

untitled

Aku meresahkan satu hal.

Aku akan meluapkan seluruh keluh kesahku yang selama ini aku pendam sejak aku masuk kuliah hingga sekarang.

Kau tau, aku masuk STP dengan harapan aku bisa memperbaiki diri. Entah itu sifat dan masa depanku. Aku tak bisa memendamnya terus. Kedengaran lebay memang. Tapi memang aku tak bisa memendamnya. Aku butuh teman cerita yang tak pernah menyalahkanku. Aku tau ini semua kesalahanku aku mengerti itu. Tapi aku ingin bercerita seolah-olah aku yang paling benar. Heh! Buat apa hidup dibuat susah !!

Aku diterima dikelas SDP, Studi Destinasi Pariwisata. Kelas yang seharusnya berisi orang-orang yang cerdas. Tapi aku belum menemukannya, sisi dari cerdas itu. Aku juga tak secerdas itu! Aku bahkan gila. Aku sudah bercerita beberapa kali bahwa aku hanyalah anak yang beruntung bisa masuk kelas itu. Aku hanya beruntung!

Sebenarnya aku sudah tak tahan menjadi ketua kelas mereka. Ya, aku masih belum bisa meninggalkan kebiasaanku waktu SMA. Aku memang terpilih menjadi ketua kelas. Tapi, aku belum bisa menunjukkan sifat pemimpin. Bahkan mungkin itulah yang membuat mereka seperti ini.

Aku tidak menyukai semuanya! Semua yang berada di kelasku. Aku berusaha untuk menyatukan mereka. Tapi aku gagal, aku tidak bisa mengatur mereka. Aku selama ini lembek ke mereka, kurang tegas, suka bercanda. Aku hanya tidak ingin dijauhi, aku tidak ingin dibenci. Tapi mungkin mereka sudah membenciku.
Hih! Apanya yang bersatu? Apanya yang kompak? Dilihat dari segi mana kompak! Hah?? Semuanya egois, semaunya sendiri, aku tau. Mereka terlalu mementingkan mereka sendiri. Capek? Lelah? Salah melulu? Kira-kira siapa yang buat itu semua. Kau pikir jadi ketua kelas gampang! Kalau kau salah ketua kelas yang menanggung ! ketua kelas macam apa yang nggak bisa menjaga sikap anak buahnya! Aku gagal, gagal total.
Aku mencoba memperbaiki diriku sendiri. Aku bahkan pernah menjadi ketua kelas saat kelas 10. Tapi kata mereka aku hanya mau mendengarkan anak perempuan saja. Cih ! kalau mereka mau didengarkan paling tidak saat rapat kasih sesuatu yang berguna!!! Hargai yang didepan!! Event sudah didepan mata!! Kau ingin merayakan ulang tahun sekolah dengan pakaian pantai!!! Maksudnya apa? Dan aku harus mendengarkan kalian?? Masukan kalian tak masuk akal! Masih menyalahkanku karena tak menerima pendapat kalian? Lalu pendapat yang mana yang harus kuterima hah??!!!! Itulah sebabnya aku hanya menerima pendapat perempuan.

Aku berjanji akan berubah. Aku terpilih lagi menjadi ketua kelas di bangku kuliah ini. Aku akan menerima pendapat siapapun meskipun itu bercanda akupun akan menanggapinya dengan bercanda, tapi itu juga akan aku buat selayaknya sebagai bahan pertimbangan. Dan sekarang, bahkan didengarpun tidak. Bagaimana aku bisa mengontrol mereka. Bahkan saat rapat kelas ada yang keluar kelas menganggap ini membosankan. Aku baru tau kalau itu yang dinamakan, KOMPAK !

Bahkan instruksiku agar rapat kelas menjadi berjalan mulus tak didengarkan oleh mereka. Aku ingin sekali-sekali membentak mereka. Bahkan aku sempat bercerita ke kakak tingkat dan itu memang harus dilakukan meskipun aku akan dijauhi. Tapi aku tak ingin dijauhi, aku ingin berteman dengan mereka. Aku menolak.
Aku rindu dengan mereka. Aku ingin main dengan mereka. Aku sayang mereka semua. Tapi aku hanya lari, lari dari tanggung jawab. Karena aku lelah memimpin mereka. Percuma, mungkin aku tetap tak di perhatikan. Mungkin saja, jika aku bukan ketua kelas aku bisa saja dijauhi.

Aku tak merasa pantas berada di posisi ini. Aku ingin dibantu. Tapi yang aku tau hanya akan menjadi omongan belaka. Bahkan bantuan itupun, entah kapan aku terima. Aku hanya ingin diperhatikan, aku egois, aku hanya kebanyakan omong. Do less talk more. Aku harus bagaimana?

Aku ingin memimpin mereka selayaknya mereka adalah anak-anak Pramuka, sekali perintah hormat, maka mereka akan hormat, sekali perintah hadap kanan mereka akan hadap kanan. Setelah selesai latihan kita akan tertawa bersama lagi. Tapi sepertinya itu mustahil. Karena mereka bukanlah Pramuka dan aku tidak memimpin anak Pramuka.

Aku bimbang, aku takut, aku hanya ingin lari, aku egois, Aku tak layak.

Aku tau mereka bukan lah cicik, ukik, abe, apoy, bunder, gio. Aku tau akan ada kenangan lain bersama mereka yang tak mungkin kudapatkan dengan teman gila-ku waktu SMA itu.

Aku sayang mereka, aku ingin berteman selamanya dengan mereka. Tak bisa kupungkiri bahwa, aku menyukai semua yang ada di kelas. Meskipun mereka tidak menyukaiku, meskipun mereka membenciku, meskipun mereka tidak menganggapku sebagai ketua kelas atau bahkan temannya sendiri. Aku tetap menyayangi mereka, karena itulah aku tak ingin terlalu keras ke mereka, aku tak ingin melukai mereka. Tapi, sepertinya aku telah melakukannya. Aku telah menyakiti mereka. Aku ingin meminta maaf.

Maaf kan aku yang tidak bisa diandalkan. Aku telah gagal. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku egois. Tidak memikirkan kalian. Maaf, maafkan aku.

Tolong, aku hanya meminta tolong. Jangan menyalahkan kakak tingkat karena meyuruh kita kumpul dengan tiba-tiba. Jangan pernah berfikir negatif saat teman kita ada masalah. Jangan terlalu menyimpulkan sesuatu dengan terburu-buru. Jangan lelah. Jangan egois. Aku hanya ingin kita kompak. Aku mohon. Jika urusan yang nggak terlalu penting tolong utamakan kelas. Bahkan kalau ingin main bersama. Aku rindu kekompakan, aku rindu kalian semua. Kalian yang menyebalkan, kalian yang membuatku frustasi, kalian yang selalu kelaparan. Aku rindu kalian semua.

Peef, dek Azqi, Amai, Devi, Lau, Anas, Ines, Lydia, Riama, Idhang, Ciu, Caca, Prisma, Jihan, Khoti, Alif, Clara, Ayu, Novri, Elda, Khiti, Elgad, Natashya, Grace, Sintia, Ira, Dandy, Stenli

Maaf. Aku minta maaf. Mungkin susah mengatakannya langsung. Tapi aku benar-benar minta maaf. Nggak usah berfikir yang lain.

Aku hanya ingin meminta maaf.

Aku kangen kalian.

Maaf.....

Wednesday, January 7, 2015

Realita Yang Berbeda


Hei guys,hari ini aku hanya ingin menceriatakan tentangku, hidupku yang mungkin realitanya berbeda dengan orang normal.

Kau tau? Menjadi aneh bagiku hanyalah keseharian yang normal. Tidak, menurutku realita yang aku jalani memang berbeda. Ayolah apa salahnya melakukan sesuatu yang menyimpang dengan keseharian orang masa kini. Aku pernah mendengar tentang orang yang sepertiku menceritakan ketidaksukaannya saat dia dibilang aneh oleh teman-temannya. Memang itu sedikit menyakitkan ketika orang lain mengejekmu aneh atau abnormal. Tapi apa salahnya menjadi seorang yang berbeda realita? Yang aku tau itu hanyalah hal biasa, selama tak mengganggu orang lain dan selama orang lain menganggap itu lucu tak masalah bagiku. Entah omongan jelek apa yang akan dilemparkan padaku bahkan sedikitpun aku tak memperdulikannya. Orang yang mau menerimaku seperti ini adalah memang benar-benar orang yang membtuhkanku dikemudian hari dan mereka adalah yang dinamakan teman sejati. Bagaimana bisa aku akan menyia-nyiakan teman yang seperti itu? Mereka yang tidak mau menerimaku, ya biarkanlah seperti itu. Toh tak akan ada orang baik jika semua orang baik.

Meskipun saat ini aku sudah mahasiswa, aku masih suka melakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan. Aku yang mempunyai seribu macam pikiran ini hanya menginginkan refreshing untuk otakku. Caraku adalah dengan berlaku sebagai anak kecil. Aku tak malu, aku tak merasa dipermalukan ketika orang lain menertawakanku. Bagiku itu adalah berkah tersendiri bisa melihat orang lain tertawa. Karena tertawa dan senyuman yang bisa membuatku kembali refresh. Entah orang itu yang membenciku, marah padaku, atau musuhku. Selama mereka tidak diluar batas aku rasa nggak apa-apa.
Aku suka berlarian kesana kemari, aku suka menyimpan sampah di saku, aku suka makan makanan yang sudah jatuh kelantai, aku suka memakai tangga daripada eskalator, aku suka melakukan hal aneh, aku suka mengejek diriku sendiri. Aku hanya ingin membuat orang disekitarku ikut menertawakanku, tertawa bersamaku, dan aku juga ingin tertawa bersama mereka. Aku tidak tau kapan aku akan meninggalkan mereka. Aku tidak pintar, aku tidak bisa membantu mereka daam mengerjakan tugas, aku tidak bisa membuat mereka terkesan padaku. Tapi, paling tidak aku mau mereka mengingatku. Disaat aku melakukan hal aneh, disaat aku tertawa. Cukup, cukup dengan itu saja aku merasa lifetimewish ku sudah terpenuhi.

Kenapa?
Aku orang yang tidak mudah bisa membuat persahabatan tahan lama. Aku tidak bisa melakukan long distance relationship. Aku adalah yang dari SD dibenci. Aku merasa sendirian, terkucilkan, terbuang. Lalu aku merasa inilah satu-satunya cara agar aku bisa diterima di mata mereka. Ya meskipun aku harus menerima bagian terburuknya bahwa aku akan diremehkan dan di tertawakan. Selama aku bisa menerimanya, tak masalah bagiku. Jadi.. menjadi aneh tidak seburuk itu. Menjadi abnormal tak akan jadi masalah selama tak terlalu berlebih. Realita ku yang berbeda dengan realita mereka. Aku bangga menjadi diriku sendiri. Bahkan, aku tak merasa iri dengan mereka yang mempunyai sifat yang lebih keren dariku. Aku hanya harus menjadi diriku sendiri.

:) :) :) It's my life

Saturday, December 27, 2014

Crap !!

Weheeww, long time no see yawww...

Yup, it six-months-busier-ever lah dari semenjak gua masuk kuliah at the first time hingga saat ini.

Sekarang lagi berke"cemplung" di dunia persilatan Pariwisata. yah, namanya juga anak kepariwisataan di STPB kampus kami, wadah kami menuntut ilmu~~ *oldorganbacksound. Sudah aku post di postingan sebelumnya kalo gua sekarang tersesat di jalan yang benar *khitistyle.



Nggak kerasa udah hidup di The Burning City a.k.a Kota Bandung ini kiranya 6 bulan. Hidup bersama orang-orang baru di kampus dengan seribu macam persoalan dan permasalahan. Gua hidup bersama anak-anak Studi Destinasi Pariwisata 2014 dan selanjurnya disingkat SDP'14 atau bisa dikatakan Kelas Sarjana Kepariwisataan dan mempunyai julukan sendiri untuk angkatan '14 ini "Kelas Lambung Bocor". Kenapa? ke-29 murid di SDP'14 ini mempunyai kekurangan yang sama, PERUTNYA ! Yup, entaah dalam konteks apa kayaknya perut mereka tak akan pernah merasa kenyang. Mereka punya syndrom "Rakusjajan", kalaupun ada satu orang bawa jajanan ke kelas, jangan harap bisa menikmati jajanan yang kalian bawa karena para piranha ini nggak akan pandang bulu siapa yang bawa jajanannya. Tapi inilah yang membawa kita mempunyai cerita tersendiri. Mereka memang sulit untuk bersama dalam hal hangout bareng tapi kalau embel-embelnya makan bareng, entah apa yang akan terjadi. Gue bersyukur mempunyai mereka dengan bermacam sifat yang khas. Karena mereka yang memberikan cerita konyol terbaru yang bisa membuatku senang. Terima kasih semua :) Terima kasih KALAB :3

Oh, Sorry for short post xD ini penampakan mereka :3

Fieldtrip Pertama di Jakarta

Fieldtrip Kedua Di Bali

Foto Akhir Semester wkakaka

Thursday, July 17, 2014

Story Of Bagendul

Oke, kali ini aku pingin nge-posting sesuatu tentang kebosanan melanda anak pramuka di sekolahku. cerita ini dibuat saat perkemahan adik kelas. Cerita ini juga dibuat oleh  orang yang berbeda.  Niatnya mau buat cerita berantai. Jadi 1 orang akan menulis satu kalimat dan akan diteruskan oleh orang yang disebelahnya yang duduk melingkar. Orang pertama adalah Ratna K.R , Aku , Ezet (Erlian Zakia AA) , Zakky Z. , Oka N.R. , dan Dinda DN. Mereka saling berurutan menulis 1 kalimat.

Cerita menjadi tidak karuan dan tidak diharapkan.

Jika kalian adalah orang yang mempunyai mental kuat tak masalah dengan cerita ini. tapi yang nggak kuat harap pindah bacaan xD Karena ini masterpiece kenangan kami. So, enjoy it :3




Hari itu… Si bagendul jalan-jalan di tengah jembatan. Lalu, tiba-tiba dia bertemu polisi di jalan. Karena ketakutan dia ngompol. Sampe 2 ember. Air itu lagkemudian tak sengaja terminum temannya sendiri.  Temannya sangat menikmati air itu. Hoey, nggilani! Stop!

Ya, akhirnya Si Bagendul pun berteriak seperti itu dengan spontannya. Diapun merebut ember dari tangan temannya dan mengguyurkan sisa isinya ke polisi yang sedang berjaga. Karena masih haus, polisi itu kencing lagi. Namun, karena mereka terlalu lama berdebat di tengah jembatan, mereka tidak menyadari bahwa ada truk trailer yang melintas dengan cepat. Akhirnya mereka bertiga terlindas truk trailer dengan tragis, sehingga tubuh dan darah mereka berceceran di tengah jembatan. Bersambung hingga nggak ada yang pipis lagi. Setelah itu banyak orang datang menolong, karena merasa ngeri semua orang yang menolong kencing 2 ember. Ada wartawan yang datang meliput kejadian ini dan berita ini pun tersebar luas di masyarakat, semua orang yang menonton liputan ini merasa ngeri dan ikut-ikutan pipis…. Lalu kiamat terjadi dan berakhirlah semua cerita horor ini. Semoga mereka semua tenang di alam sana. Aamiin. Namun, ada seorang yang selamat dari kiamat itu karena dia tidak ikutan pipis, dan dia adalah orang terakhir yang mengemban tugas untuk mengindahkan bumi lagi tanpa pipis. Bertahun-tahun dia menahan pipis. Karena sikapnya yang berperilaku tidak sehat untuk menahan pipis selama bertahun-tahun maka meledaklah ****** miliknya karena sudah usang. Ya udah. Selesai, mau apa lagi coba?? Tiba-tiba datang dokter spesialis pipis. Kemudian dia me-reparasi itunya. Kini satu-satunya pemuda yang selamat dari kiamat telah beranjak dewasa dan telah bekerja sebagai tukang jagal kambing. Kemungkinan kambing itu dia dapatkan sebagai hadiah reparasi itu-nya.

Cerita Anak Bodoh

Udah pada tes universitas ini? Udah lihat SBMPTN yang muncul kemaren sore? Pasti hasilnya ada yang memuaskan dan ada yang mengenasakan. Yah guys, kalau kamu gagal SNMPTN trus ikut SBMPTN gagal trus patah semangat? Ada?

Tadi temenku ada yang berkata "Aku baru ggal 2 kali kok, belum sebanyak Albert Einstein". That's a failure spirit. Orang yang semangat untuk gagal berarti dia adalah orang yang siap untuk mencapai kesuksesan :)

Oh ya masalah ini aku mau mengungkapkan ceritaku. Kehidupan pendidikanku. Bagi kalian yang tahun depan ingin melaksanakan SNMPTN dan SBMPTN dan ingin lolos tanpa ada penyesalan atau jika gagal namun akan tetap mempunyai semangat juang, mungkin ceritaku ini bisa menginspirasi kalian :)

Sebelumnya, aku adalah anak dengan IQ pas-pasan dan sama sekali tidak pintar. Bodoh adalah titik tengah otakku. Meskipun banyak orang mengatakan bahwa aku ini cerdas, yaah, memang aku hanya bisa menggunakan "cerdas" itu sebagai tumpuanku dalam bersekolah.

Dimulai sejak SD. Aku bersekolah di MI Islamiyah Madiun. Sekolah setara SD ini memang menjadi favorit di Madiun. Siswa yang disaring masuk pun adalah siswa-siswa yang akan berprestasi nantinya. Bukan aku. Sekali lagi aku tidak termasuk dalam daftar itu. Saat SD aku hanya berfikir untuk melogika sesuatu. Memang terlihat seperti anak yang cerdas bukan? Tapi seluruh mata pelajaran aku tidak pernah bisa. Matematika, Ipa, Bahasa Indonesia, selalu mendapatkan nilai dibawah minimal. Tapi ada satu pelajaran yang aku mampu, Bahasa Inggris. Mulai itu aku selalu mempelajari bahasa inggris dan ogah-ogahan mempelajari pelajaran lain. beberapa kali orang tua harus dipanggil karena kebodohanku. Bukannya bermalas-malasan belajar, tapi setiap kali belajar aku selalu tidak berkonsentrasi yang menyebabkan sulit sekali mencerna pelajaran-pelajaran itu.

Masuk SMP. Aku diterima di sekolah bertaraf internasional namun masuk kelas reguler, itupun aku berada pada posisi 10 paling bawah. Pada waktu SMP tidak jauh beda dengan kehidupanku di SD. Selalu mendapatkan nilai terjelek. Lagi-lagi orang tua harus dipanggil karena kenakalanku dan nilai-nilai ku disekolah yang tidak memuaskan SAMA SEKALI ! Namun di SMP aku selalu belajaar sungguh-sungguh saat peajaran bahasa inggris. Ya, hanya itu peganganku, hanya itu harapanku.

SMA. Masuk tes di SMA RSBI dengan nilai bahasa inggris yang tinggi dan nilai pelajaran wajib yang rendah. Aku sangat bersyukur karena belajar sungguh-sungguh hanya bahasa inggris bisa membuatku mempunyai alasan untuk diterima di sekolah yang luar biasa itu. Mulai dari sini aku belajar bahwa meskipun hanya ahasa inggris yang aku bisa, aku bisa masuk ke sekolah favorit seperti ini. LAGI-LAGI di SMA !! Aku tidak pernah mendapat nilai bagus, nilai selalu hancur, tidak pernah mengerjakan tugas, ulangan selalu remidi, selalu mendapat rangking terbawah dikelas. Gila. Waktu SMA bahkan pernah divonis guru aku tidak bisa naik kelas. BAYANGPUN !! Yang aku bisa hanya bertingkah konyol dikelas agar teman-temanku mempunyai alasan menerimaku menjadi teman mereka, jika tidak mana mungkin mereka mau berteman denganku.

Ketika teman-temanku mulai bercerita tentang Universitas yang mereka idam-idamkan, aku hanya termenung, "kemana aku akan melanjutkan?" "mau jadi apa aku?". Meskipun aku sempat terprovokasi dengan mereka yang mengatakan bahwa, "Hei, univ ini keren, aku mau masuk univ itu biar sukses" "Hei, pasti aku jadi orang hebat kalo masuk univ ini". Yah, aku hanya menelan ludah saat mereka yang pintar bercerita tentang kesuksesan.

Di kelas 11 aku mengikuti kunjungan kampus ke UB, Universitas Brawijaya. Universitas yang teman-temanku idam-idamkan. Sekolah elit yang pasti akan dipuji jika berhasil lolos masuk di universitas itu. Universitas yang patut dibanggakan. Terbesit pikiran aku juga ingin masuk di universitas itu dengan prodi yang agak susah juga, "Ilmu Komunikasi". Namun kandas, aku sudah mencoba untuk membenarkan dan menaikkan nilai-nilaiku agar bisa masuk Universitas kebanggaan itu. Apa daya, aku gagal. Bahkan insiden itu membuatku terkena vonis aku tidak akan naik ke kelas 12. Sekeras aku belajar guna menaikkan nilaiku di sekolah malah membuatku lelah dan akhirnya terkena vonis seperti itu.

Aku mulai lelah, aku mulai gusar, aku mulai hancur.

Akhirnya tuhan memberikan cahyanya melalui ayahku. "Nak, kenapa kamu nggak nyoba di sekolah pariwisata di bali itu?"

Aku tidak yakin. Bahkan sekolah itu tidak terkenal, tidak seperti UB yang wow banget. Aku mulai berfikir, daripada nantinya aku tidak melanjutkan kuliah, apa boleh buat? Aku mulai cek tes yang di ujikan waktu penerimaan. Bahasa Inggris dan Psikotest ! Otakku mulai aktif lagi. Mungkin sekolah ini yang bisa menerimaku yang hanya bisa bahasa inggris. Akhirnya aku meminta persetujuan orang tuaku. KANDAS KAWAN !! Ibuku tidak membolehkanku sekolah di Bali dengan alasan disana pergaulannya jelek. Aku merenung lagi. Aku mencari sekolah yang sejenis. Ketemulah STP Bandung. Ibuku mengiyakan dan ayahku setuju. Meskipun aku sedikit kecewa dan pesimis tidak berhasil masuk ke UB yang aku banggakan itu, aku harus menerimanya.

Waktu kelas 12 seluruh siswa harus mendaftar SNMPTN. Yah, aku yang saat itu tengah hancur karena pesimis tidak akan lolos UB terpaksa mengisi data. Namun malam sebelumnya aku bertanya pada orang tuaku masalah prodi yang aku pilih nanti. Akhirnya dengan melihat kemampuanku sendiri aku memilih UNS Ilmu Komunikasi karena cita-citaku yang kandas, UNS Sastra Inggris karena aku hanya bisa bahasa inggris dan UNAIR Ilmu Komunikasi untuk pilihan mepet karena harus pilih 3. Kenapa aku tidak memilih UB? Aku mengetahui kemampuanku, aku tau batas kemampuanku, kali ini aku tidak menginginkan pujian, aku hanya ingin kejelasaan bahwa aku akan masuk kuliah, aku tidak ingin mengecewakan orang tua, aku tidak ingin kecewa, aku ingin belajar dengan keterbatasan kemampuanku, aku tidak ingin egois, aku tidak ingin sok-sokan. Dan itulah alasan kenapa aku memilih UNS dan UNAIR yang saat itu berada dibawah UB. Toh aku juga pesimis melihat nilai rapotku yang sedang-sedang aja bahkan mengenaskan. Dan nantinya aku tidak akan terlalu jauh untuk jatuh ketika tidak lolos SNMPTN.

UN. Sempat menjadi orang pesimis yang sedang pesimis saat pesimis. Aku hanya bisa menjawab 5 soal matematika !!!!

Namun aku masih bisa lulus UN dengan nilai yang tidak begitu memuaskan namun cukuplah untuk orang bodoh aneh sepertiku. Dan melihat teman-temanku mendapatkan danem yang bagus-bagus, aku hanya bisa mengucapkan selamat kepada mereka :')

Pada saat tes STP Bandung, aku memilih jurusan Studi Destinasi Pariwisata sebagai pilihan pertama karena ibukku menyuruhku memilih S1 dan D3 Manajemen Tata Boga sebagai pilihan ke 2 karena aku hanya bisa memasak. Pada penjelasan akademik datanglah profesor dari SDP dan mengatakan "kalian yang memilih SDP ada sekitar 327 orang. Dan jika kalian berhasil masuk ke prodi SDP kalian adalah orang-orang jenius yang terpilih. Karena SDP hanya menampung 1 kelas dan hanya menerima 30 orang. SDP juga adalah prodi unggulan Pariwisata di STP Bandung". Mendengar pernyataan tersebut aku down lagi. Untungnya pilihan nanti akan bisa diganti pada saat sesi wawancara.

Pada saat sesi wawancara aku mengganti pilihan prodiku ke D3 Manajemen Destinasi Pariwisata dan pada pilihan ke 2 tetap. Pada surat pernyataan tersebut ada opsi yang terlulis "Saya bersedia ditempatkan dimanapun sesuai dengan hasil tes yang keluar dan atas keputusan dosen pewawancara". Aku percaya akan lolos tes dengan kemampuanku entah dimanapun prodiku dan pada akhirnya aku centang pada pernyataan itu. Setelah semua tes berakhir aku hanya bisa pasrah saat itu dan harus percaya bahwa aku akan diterima di STP entah pada prodi apapun.

Pada saat pengumuman Alhamdullillah sekeras-kerasnya bagi Allah yang maha adil yang selalu memberikan petunjuk bagi hambanya yang berusaha. Aku lolos STP Bandung dengan prodi yang mengejutkan ! Ya ! Pilihan pertamaku, pilihan yang aku anggap aku tidak bisa melampauinya, SDP ! Ibu ayahku menangis terharu melihat anaknya yang bodoh ini lolos tes dengan prodi yang sangat sulit ditembus. Dan kabar mengejutkan kembali tersebar ke esokan harinya. Lolos SNMPTN UNS S1 Sastra Inggris. Ini sebuah hadiah yang sangat indah. Dan pada akhirnya aku memilih STP sebagai sekolah lanjutanku dan mengirimkan surat pengunduran diri ke UNS.


INTINYA. :
Bagi kalian yang memilih prodi pada SNMPTN atau SBMPTN, pilihlah yang menurut kemampuan kalian bisa melampauinya. Jangan egois memilih. Agar kalian tidak terlalu jauh untuk jatuh. Pastikan juga restu orang tua. Itulah yang paling penting. Ingat kemampuanmu, ingat kecepatanmu, selalu berikhtiar menyerahkan diri ke Tuhan yang maha adil. Pilihlah prodi yang jarang dipilih, karena pasti lulusannya akan ditunggu-tunggu bagi yang membutuhkan dan lowongan pekerjaan pasti melimpah.

Semangat selalu bagi kalian para pejuang nantinya :) semoga bisa memetik sesuatu dari kisahku :) See you at another level of life :D

Sunday, June 29, 2014

Pemilihan Presiden 2014

Ramai sekarang gencar-gencarnya semua masyarakat Indonesia membicarakan tentang Pemilihan Presiden tahun 2014. Ya, memah hal yang musi dibicarakan sih karena ini menyangkut masalah masa depan bangsa Indonesia kita ini

Tahun ini pemilihan prasiden hanya iikuti 2 kandidat capres dan cawapres. Yaitu,
Nomer Urut 1  : Prabowo Subianto - Hatta Rajasa
Nomer Urut 2 : Joko Widodo - Jusuf Kalla

Nah, untuk itu aku sebagai pemilih yang sah ditanggal 9 Juli itu aku wajib menyumbangkan siapa yang menurutku pasntas dan diperlukan untuk memimpin Indonesia kelak 5 tahun kedepan. Untuk awalnya aku memilih Jokowi tapi setelah dijelaskan oleh temenku akhirnya keputusan akhirku menuju ke Prabowo. Mengapa?

Aku disini memilih Prabowo karena masalah National Border. Menurutku hal inilah yang diperlukan negara ini saat ini. Untuk para pendukung Jokowi yang membaca artikel ini untuk tenang. Disini aku hanya menjelaskan mengapa aku memilih Prabowo dengan sudut pandang keamanan dan keutuhan NKRI.

Dilihat dari latar belakang pak Prabowo adalah militer. Ya, ini yaang berhasil mendoktrinku untuk memilih pak Prabowo. Bahkan aku sempat membaca artikel bahwa jika pak Prabowo berhasil menjadi presiden, akan ada kecanggungan hubungan antara Indonesia dengan Amerika. Karena Prabowo sangat disegani oleh Amerika Serikat. NAH !! inilah kode selanjutnya agar kebusukan Amerika bisa berhenti mengembargo ALUTSISTA (Alat Utama Sistem Persenjataan) Indonesia. Selama ini bangsa kita sudah di embargo pesawat oleh amerika seperti pengadaan pesawat tempur F-16. Amerika memberikan hibahan F-16 ke Indonesia dengan syarat-syarat yang rumit. F-16 yang mereka berikan juga bekas yang harus diganti spare part nya. Ini yang sebenarnya jika kita memandang jangka panjangnya akan merugikan Indonesia karena harus terus membeli spare part pesawat tempur yang high cost.

Denger-denger kalau Prabowo jadi presiden nanti masalah Freeport akan segera dihentikan kontraknya dengan Amerika agar hasil dari tambang Freeport bisa seutuhnya bisa dinikmati oleh bangsa kita sendiri.

DAN

Indonesia terletak di tengah-tengah negara-negara persemakmuran Inggris !! seperti Singapore, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini. Baca http://id.wikipedia.org/wiki/Negara-Negara_Persemakmuran. Untuk pertahanan atau jika sewaktu-waktu kita ada perang dunia ke 3 (semoga tidak dan hanya untuk berjaga-jaga) Indonesia akan menjadi target utama dalam perang itu. Karena Indonesia yang bukan negara persemakmuran dan kekayaan alam di Indonesia, pasti !! Indonesia akan kembali dijarah negara eropa. Dan jika alutsista kita kebanyakan dari Amerika, alhasil bantuan persenjataan akan dihentikan dan Indonesia akan mudah di lenyapkan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah menyandarkan diri ke Russia. Jangan dilihat bahwa mereka komunis !! Russia memang menganut komunisme tapi disini kita tegaskan untuk bantuan senjata dan alutsista. Russia tidak akan segan segan membantu Indonesia untuk peperangan melawan Amerika atau Inggris karena mereka juga tidak menyukai kedua negara tersebut. Russia juga pernah membantu menggertak Belanda di Papua dengan bantuan 3 kapal induk dan puluhan light battle ship permintaan Soekarno. Dengan begitu kita akan diselamatkan dari ancaman negara Amerika dan Inggris.

Dan itu hanya bisa dilakukan oleh Pak Prabowo karena notabene pak prabowo yang mengerti betul tentang militer.

Yah, itulah mengapa saya memilih Prabowo menjadi Presiden 5 tahun kedepan :)

Tuesday, December 10, 2013

Pertamina Akan Bangun Menara Tertinggi ke-9 Di Dunia


Pertamina Energy Tower, Tertinggi Nomor 9 di Dunia, Kalahkan Jauh Petronas Tower di Kuala Lumpur

Selasa, 10-12-2013
PT Pertamina (Persero) telah memulai retasan impian membangun salah satu pencakar langit tertinggi di Indonesia yang ditandai peletakan batu pertama, Senin (9/12/2013) kemarin.

Pencakar langit ini bernama Pertamina Energy Tower. Lokasinya berada di kawasan superblok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan mengatakan, gedung kebanggaan Pertamina itu memiliki ketinggian 530 meter dan berisi 99 lantai.

“Luas total bangunannya mencapai 540.000 meter persegi dan akan difungsikan sebagai kantor pusat Pertamina dan anak-anak usahanya dengan kapasitas 23.000 karyawan," tutur Karen.

Ketinggian Pertamina Energy Tower masih kalah menjulang jika dibandingkan dengan menara lainnya di dunia, baik yang sudah terbangun maupun sedang dalam tahap konstruksi. Menurut Council on Tall Building and Urban Habitat (CTBUH), Pertamina Energy Tower akan menempati peringkat 9 dunia.

Sembilan teratas supertall dan megatall dunia tersebut sebagai berikut:

1. Kingdom Tower Jeddah, Arab Saudi, (1.000 m)
2. Burj Khalifa Dubai, Uni Emirat Arab, (828 m)
3. Ping An Finance Shenzhen, China, (660 m)
4. Wuhan Greenland Center, China, (636 m)
5. Makkah Royal Clock Tower, Arab Saudi, (601 m)
6. Goldin Finance 117 Tianjin, China, (597 m)
7. One World Trade Center New York, Amerika Serikat, (541 m)
8. CTF Guangzhou, China, (530 m)
9. Pertamina Energy Tower Jakarta, Indonesia, (530 m).

Posisi 9 terjangkung dunia ini pun bakal berubah saat Signature Tower Jakarta (STJ) memulai konstruksinya yang dijanjikan Agustus 2014 mendatang. Ketinggian menara yang dikembangkan Artha Graha Group melalui Grahamas Adisentosa ini mengangkasa hingga 638 meter (111 lantai).

Managing Director Pandega Desain Weharima, arsitek dan mitra lokal Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart and Associates Inc (desainer STJ), Tiyok Prasetyoadi, mengungkapkan, pada Januari 2014 STJ akan melakukan uji beban.

"Begitu block plan rampung, kami akan langsung melanjutkan dengan uji beban. Kami tinggal menunggu IMB yang keluar pada Juni 2014. Sementara restu dari Dinas Tata Ruang sudah kami kantongi," ujar Tiyok kepada Kompas.com, Senin (9/12/2013).

Pertamina Energy Tower sendiri dijadwalkan dapat beroperasi pada 2020 mendatang, seiring dengan ambisi sebagai perusahaan energi terbesar di Asia Tenggara pada 2025 (ASEAN Energy Champion).

Selamat Ulang Tahun Emas Ke-50 Pertamina


Wednesday, November 27, 2013

A Blue Dove For The Princess


Chapter I, "The Beginning"


Once upon a time...
There lived a dove in a castle in a country where green and warmth prevailed. The dove had been taken care of by a princess since she found the young dove injured in the castle’s garden. The dove was injured so badly that he felt like his wings were about to be torn off. The pain was all over his body and he could do nothing, but lay himself on a leaf bed. It was the princess who saved him. She carried him into a small cage, which was hanging in a window in the corner on the house. Despite living inside the cage, he was far from frustration. The princess always gave him close attention and the scenery through the window was wonderful. More importantly, he could enjoy watching every move she made. Having recovered from the injury, he became healthy enough to jump around inside the cage. 

Chapter II, "Disease of the Princess"

The dove was so happy with the days there and hoped that it would continue for good; but at some point everything began to change. The princess, who was always in good shape and made it a habit to come visit him many times a day; did not show up even once on that day, She did not come up and feed him until the end of day.
On the following day, early in the morning, the dove saw many noblemen gather around the princess. They all had an anxious look on their faces. It seemed that the princess had a disease. She may not be able to get well. She may possibly pass away. How can this happen when the neighboring country just ceased warfare? How can this be when peace of the world is close at hand? The men were talking about all of this.
"The Demon of Razgriz!" One of them suddenly spoke up in a loud voice. "When history witnesses a great change, Razgriz reveals itself, first at a dark demon. As a demon, it uses its power to rain death upon the land and then it dies". "However after a period of great slumber, Razgriz returns, this time as a great hero."
"Only the Demon of Razgriz can do this to her!"
Thinking about how healthy she looked on the previous day and how seriously these men cared about her, the dove felt uneasy more than ever. She may disappear. She may not wake up to come see me. These sad feelings lingered on in his mind.

Chapter III, "Thoughts of a Dove"

While caring about the princess and looking back upon the days spent with her, an old memory flashed across the dove’s mind. It was the story that his mother told him before she died. “Somewhere in the world is a big tree, known as the Orion Poplar and its magical fruits can cure every injury and every disease. It is far, far away; deep down in the rocky mountains that no man can ever set foot in”.
“That magic fruit can cure the disease and save her life”, the dove thought. “She will be well if I can get one.” Though the more he thought of it, the less confident he felt. “Can I escape the hawk and peregrine if they come after me? Can I fly to the mountains so far away and then fly over them? Can I simply fly for such a long time? Can I really carry the fruit with this small beak of mine, even if I am lucky enough to get there? Can I manage to make it back in one piece?”
He could not help having these bad feelings deep inside of himself. There was no blaming him for this. Having been protected all the time by the princess, since his injury, all he did was reside in his tiny little bird cage. In the mean time, the princess became worse, day by day.
The next morning, an old nursemaid came to feed the dove on behalf of the princess. She opened the cage just a little to feed the dove. He was watching her do it with a determined look on his face, waiting for his chance. Then, he took the chance and got out of the cage. Flying through the room’s door and flying across the castle’s walls, the dove was heading for the sky high above. He heard the nursemaid shout “O' dear!” from behind.
Was he finally free from the fear of the hawk and the peregrine? Definitely not. Had he the idea of what course to take? Absolutely not. Nevertheless, he took desperate flight in pursuit of the magic fruit.

Chapter IV, "Lark"

The dove first reached a forest to the north of the castle. “Looks like you are in such a hurry, but your flying is not smooth,” said a lark which had just flew quickly from behind him. “No wonder. I’ve lived in a cage for a long time. I’m proud that I can somehow manage to fly”, the dove answered back. “Cage is no good”, the lark said abruptly, “We’ve got wings, right? They can take you anywhere you want at anytime you want. That’s how it should be. Look at the world. It’s so big.” He asked the lark, “Don’t you think the sky is dangerous? There are hawks and peregrines up here. What if they come after you? And on the ground are foxes, raccoons, dogs and cats.”
“Let me ask you something. Can you eat something you want to eat, if you are confined in a cage?" the lark asked. “One day you feel like eating worms and the other day you want to have some rosehips. Suppose you no longer have someone to feed you. There is not point in talking about, 'safe' and, 'dangerous' then. It is if, 'you' or, 'someone else' when you go through with something, that counts.”
“Is it good to know that the world is so big?” The dove asked in response.
“The world is what your eyes can see. It then becomes your world. So, knowing more will make you better. You can count on it”, the lark said all of this neatly, but seriously. The dove said to the lark, “I am searching for a magic fruit. “Ain’t got no clue. Why don’t you ask that green worm down there? O’ what a pity! I never want to be something like that. It can move but, all it can get a hand on is a single tree. That tree is the entire world to that thing,” the lark said, gliding freely.
The dove looked down and found something green crawling on a tree down below him.

Chapter V, "Green Worm"

“I myself can fly. I know I don’t fly as high as you do, but I can fly,” the green worm suddenly said to the dove.

“You have no wings, so you can’t just fly”, the dove said to the worm. “You are wrong” the worm said, “I can. I can become a pupa and I will have my wings. That’s why I can fly.” “But, not for now” said the dove.
“There is no difference between flying today and flying tomorrow. You couldn’t fly either when you were an egg, could you? When I become a pupa, I will have wings myself. The size of my wings is the same as that of my memory I obtain before I turn into a pupa. Once I have wings, my legs become small and weak. Then I will not be able to walk around like this. That’s why I keep watching everything about this tree”, the green worm finished.
“I am searching for a tree that bears magic fruit,” the dove said to the worm.
“I met a tortoise here. He looked wise. He told me that he would usually hang about at the lakeside beyond this forest. He probably knows something about it. He may be wise, but he has to be locked up in his carapace until he dies. He will not have wings. His memory is as old as his age. It remains forever.”
Far, far away, just over the forest; there was a lake shining under the light of the sunset.

Chapter VI, "Tortoise"

On arriving at the lake, the dove met the tortoise. “It is good to have a carapace. This has enabled me to survive a lot of dangers. There are some birds that wear a carapace, aren’t there?”
“You mean a cage? Its not like yours. It bans us from going outside. Many of us want out of the cages. I was once in one too,” the dove explained to the tortoise. “Why on earth did you get out of it and jeopardize yourself?” the tortoise asked, confused. “The best was to live long is to stay away from anything dangerous. Hazards can hit you, even if there is nothing to be blamed on, on your end. When you are in trouble, you need… to be… like this. Wait until everything subsides. Don’t even think about moving around, “ the tortoise said, folding his limbs into his carapace.
“It is no solution!” the dove protested. “Well!” said the tortoise with a loud voice,” Can every problem be solved? Are you sure of it so much? Everything has its end, good or bad. When the sun is shining, you better enjoy as much sunlight as you can. In the ice cold winter that freezes your tear drops, you must endure with everything you’ve got. The sun will rise again. We are mortals and that is all mortals can do. “ The tortoise paused.
“Hmm? A strange wind has begun to blow. I have a feeling that something wicked is coming,” he said as he pulled his head into his carapace. “There are rocky mountains far beyond the other end of this lake. Can you see them? The fourth peak from the top of the highest mountain in the middle. Go there.”
The dove took a look towards the mountains off in the distance. It was so far away, its image was blurred. “Believe!” the tortoise said, “Believe, whatever it may be. I believe in this impregnable carapace of mine, more than a magic fruit.”

Chapter VII, "Old Tree"

When the dove struggled and made his way, at last, to the mountain an old tree began to speak up to him. "An ominous wind is blowing. Is it finally here? Has time come for an old tree like me to fall down? The Demon of Razgriz … hmmm … a great hero this time?" 

“What is it?” The dove asked with a calm voice. “When history witnesses a great change, Razgriz reveals itself. First as a dark demon”. The tree began to tell the same story that the dove heard at the castle. “As a demon, it uses its power to rain death upon the land, the it dies. However, after a period of great slumber, Razgriz reveals itself, this time as a great hero.”
“Demon? Hero? What does it do?” The dove asked. “When I saw it for the first time, I was young and thin. I had fewer branches then. In those days, humans often battled against each other. Razgriz not only brought about a tempest which kept raging for seventy days but also kept scattering hailstones from above. Trees and grass perished and nothing was left for the humans and animals to live on. Consequently, the soil was in ruins. All living things died, one after another. My friends, four legged beasts, humans and birds like you. Everything in this land was deprived of breath. In the end, Razgriz murdered none other than itself. Shortly after, this piece turned into nothingness.”
“It was an evil being, wasn’t it?” the dove asked the tree. “Nay,” the old tree answered, as if he was uncertain himself. He exhaled and took a deep breath.
“This story still continues. After a long, long time passed since the land had died, there was a traveler. The traveler cured those who suffered from disease, resurrected the soil, gathered all those people who sheltered themselves away from here and founded a village and a town. The rivers were full of water. The soil became a wheat field. This land was once again at peace. There upon, the traveler decided to leave the village. The villagers were far from happy about this. At the moment of departure, they heard the traveler say, “I am… Razgriz”. This marks the end of this story."
“I am here in need of a magic fruit”, the dove finally told the tree. “…Alright. There are few fruits left for me to give. You can take one though. By the way, have you any idea why this is called magic fruit?” the tree asked the dove. The dove remained silent, gazing at the old tree. “This can become not only a medicine, but also a poison. Or rather, this may be no more than a fruit and this may even change to stone.”
“What do you mean?” The dove said, puzzled. The old tree simply replied, “This fruit will become what you believe it to be”. The dove turned around to look at the castle, holding the fruit in its mouth. Even beyond the furthest hill, it was still unseen.
“The ominous wind is blowing”, the old tree said staring at the sky. “Fly carefully home”.

Chapter VIII, "Demon From Above"


The dove gave gratitude and said farewell to the old tree.
Dragging his numb body upwards, the dove flapped his wings and flew towards the castle where the princess lived. It flew up and up, weaving through the forest, breaking through the clouds, up to where it could catch the wind.
Although the tail wind it was hoping for did not come, the dove drummed up all of its power and kept flapping, holding the, “miracle that can cure any illness” tightly in its beak.
He left the rocky mountains with the magic fruit tightly in his beak. The wind began to blow even stronger. The Dove then found himself flying through a storm and hailstones. In spite of the terrible weather, he needed to return home as quickly as possible. He spread out his wings.

Chapter IX, "Magic Fruit"

Although the wind turned the tides against him time and time again, he had to try to get back home, to the castle where the princess was waiting. Flying up and flying high, weaving throughout the forests and breaking through the clouds, in order to catch the wind which would carry him home.
Down below ran the river towards the horizon. Far beyond the horizon were a forest and a castle which looked familiar to him. Just a little bit more! thought the dove. Just a little bit more and I will see the princess! Our happy days are about to begin again!

Chapter X, "Returning Home"

On arriving at the castle at last, the dove saw people gather and surround the princess in bed. There were more people than last time. All the people were weeping with a grave and sad look on their faces. Above all, the king was crying out in sorrow. His crying was almost a groan.
The Dove did not arrive in time. The princess had been gone and he felt so sad. However, he never felt sorry for what he had done. He repented nothing, because her face was so calm. He could tell from the way she looked that she never lost hope to the end and she loved the world.
The Dove, fully exhausted from the do-or-die journey, fell asleep feeling sorrow but somewhat calm.

Chapter XI, "The Ending"

In the following morning, on entering the room, the nursemaid found the dove’s body resting in peace beside the princess. She twisted her face in surprise and said in a very loud voice, “O’ my! Is this her little dove? How come? He was injured and couldn’t flap since then. These wings were certainly deformed and disabled. How did he set off and even come back? What a surprise!”
The dove was still holding the fruit of orion poplar in his beak, even after he passed away. The nursemaid decided to place it in the middle of the garden right under the window of the princess’ room.
In time, it grew to be a big and thick tree with a lot of branches. It is said that from the top of the tree, the princess’s room and her bird cage can be clearly and closely seen.

Friday, August 16, 2013

Think That !

August, 17th 1945.
Semua orang tau tanggal itu. Semua rakyat Indonesia. Seluruh pejuang. Pejuang bangsa. Tanggal ketika pidato proklamasi yang dikumandangkan sang proklamator Ir. Soekarno berkumandang hebat mengudara. Melewati jalur-jalur frekuensi radio hingga ke seluruh pelosok negri. Dimana bendera dwiwarna sang saka merah putih jahitan ibu Fatmawati berkibar diantara kicauan burung yang mendampingi lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

Ini permasalahannya.

Kita tau bahwa sebelum kemerdekaan, para pejuang dan bahkat rakyat Indonesia berjuang mati-matian memerdekakan negara kita dari jajahan jepang maupun belanda. Mereka rela mati agar para penjajah dapat meninggalkan bumi pertiwi. Memang mudah mengatakan seperti itu di jaman yang merdeka seperti ini. Tapi bagi mereka?? Ini adalah masalah harga diri. Mereka berjuang bukan hanya memikirkan harga diri mereka sendiri. Mereka juga membawa harga diri bangsa kita. Terngingang-ngiang di pemikiran mereka, “Kapan kita bisa bebas? Kapan kita bisa menghirup udara segar tanpa penjajah? Kapan? ”. Sempat-sempatnya mereka berfikir seperti itu ditengah-tengah ribuan peluru yang melesat cepat diantara kepala mereka. Bahkan diantara ambang hidup atau mati. Tapi yang pasti mereka tidak memikirkan hal itu. Yang mereka pikirkan adalah menjadi orang yang berguna yang bisa membawa kita menuju gerbang kemerdekan Indonesia.


Pikir lagi! Betapa susahnya hidup pada masa penjajahan. Betapa susahnya mencari kebebasan.

Sekarang? Kita sudah merdeka dari penjajah, kita sudah bebas tanpa memikirkan mati tertembak peluru penjajah.



Sekarang apa yang kita perlu fikirkan? Jika sudah tau bagaimana susahnya merebut kemerdekaan, paling tidak kita hargai perjuangan mereka, goddammit ! Jangan seenak-enaknya saja berfikir kemerdekaan ini tanpa pengorbanan. Kita tinggal semena-mena berleha-leha dengan semua ini.

Hei, bagi kalian pelajar dan kaum muda. Jika kalian hanya mengeluh mengikuti upacara yang diselenggarakan tiap tanggal 17, apa kalian akan senang jika disuruh membawa senjata dan melawan penjajah, ha?? Pikir lagi!! Jangan meremehkan upacara bendera. Kalian disuruh berdiri hormat kepada Merah Putih nggak lebih dari 30 menit udah ngeluh. Sombong banget kalian ha? Mentang-mentang udah nggak mikir pemjajah terus kalian bisa seenaknya sendiri?

Kalian yang suka tawuran. Hei, daripada kekuatan kalian yang kalian bangga-banggakan itu dihambur-hamburkan untuk melawan sesama pelajar, kenapa nggak kalian gunakan untuk ikut tes militer?? Lagipula apa mafaatnya coba, kalian hanya menyakiti satu sama lain. Sialan, udah mulai jagoan?? Otak udah miring semua ya??

Ini nih yang paling kurang ajar. Pejabat pejabat tikus busuk ! entahlah apa yang ada dipikiran mereka. Menjadikan negara ini lebih baik atau hanya uang uang uang saja. Koruptor dimana-mana. Sial! Hukum sekarang lembek banget, kurangnya penegasan, semua bisa dibeli dengan uang. Gila.
Untuk masyarakat juga. Jangan hanya masa bodoh dengan semua permasalahan yang ada. Mari sama-sama membangun negara ini. Jangan seenaknya saja membantah peraturan yang telah dibuat. Jika peraturan itu menyimpang, mari kita tegur baik-baik. Jika peraturan itu layak, mari kita laksanakan sama-sama. Itu untuk kebaikan kita semua. Bukan mau sok nasionalis atau sok benar sendiri. Tapi memang itu kenyataan, kita berada di negara ini dengan peraturan agar kita hidup damai bermartabat satu sama lain.

Mari kita sama-sama membangun Indonesia menjadi negara yang disegani. Jaga budaya kita, itulah jantung kita. Hilangkan ego individualis. Satukan jiwa. Jangan mudah terpengaruh oleh omongan orang. Bepegang teguh pada agama masing masing. Pondasi Bhineka Tunggal Ika harus kita J
junjung. Bangga terhadap produk dalam negeri. Membayar pajak untuk fasilitas kita.


Dirgahayu Indonesiaku, Dirgahayu para pejuangmu. 

Wednesday, July 10, 2013

Strangemare

Apa yang terjadi kalau lu tiba-tiba bermimpi, lu didatengin anak lu padahal lu masih belum punya anak?? Kaget? Shock? Pasti kepikiran hal-hal yang aneh-aneh.

Ini kejadian malem tadi. Senyenyak-nyenyaknya ibu gue tidur pasti pernah mimpi buruk. Apalagi anaknya !

Oke gini kronologinya.

Berlatar tempat sekolah gue sekarang, tapi agak beda dikit di bagian bangunan depan seperti biasa gue lari-larian karena mungkin gue telat. Sampai di kelaspun semua ada tanpa absen. Hari-hari seperti biasa. PR, Tugas, Presentasi, dan Ulangan dadakan. Gue liat kejendela luar, entahlah, ini kurasa memang mimpi karena gue lihat Naga bear brand lewat -_-a Gue tersedak, gue inget bahwa hari itu ada adek kelas baru masuk SMA. gue teriak-teriak ajak Abe, Gio, dan Bunder teman terdekat gue dan langsung menuju GOR tempat SOW. Setelah SOW selesai berduyun-duyun banyak pelajar-pelajar baru melintasiku, Tiba-tiba ada seorang gadis cantik berambut panjang agak mengembang dan di silakan ke samping. Dia manis, diantara siswa-siswa baru dia yang gue rasa paling manis. Dia menghampiriku, aku bertanya, Siapa namamu? terdengar samar, aku lupa namanya. Tapi entahlah namanya terdengar sangat indah.

 Namamu cantik. Siapa yang kasih nama?

Benar?? Bukankah kau yang memberiku nama yah??

Yah?? he?? (gue terlihat jelas bingung linglung)

Hei, ayah lupa sama anakmu ini??

Setelah percakapan itu, entah kenapa mimpi itu berubah menjadi pertandingan futsal antara Indo lawan malay -_-a

Setelah bangun tidur gue mengira-ngira.. Ini.. Apa yang terjadi?? Kenapa di mimpi gue itu ada anak yang mengaku anakku? Lalu apa yang terjadi dengan "anakku" dimasa depan?? Gue nggak tau. Gue bukan tuhan ataupun dukun yang bisa lihat kayak gituan. Gue cuman bisa mengira-ngira apa yang terjadi.... Mudah-mudahan tidak akan terjadi apa-apa dengan anak gue di masa yang akan datang.




Dan sampai sekarang gue masih penasaran..........

Saturday, July 6, 2013

Sebuah Fakta Dibalik Kertas Hitam

Akhir-akhir ini.. ahh tidak.. Minggu-minggu terakhir ini aku merasa ada yang mengganjal di dalam sini. Tepat diantara paru-paru. Apa yang terjadi?? Bahkan aku sendiri yang punya, tidak mengetahuinya..... -__- Ironis

Kau tahu...

Hingga saat ini.. Jika aku benar-benar tidak suka padamu..

Kenapa aku harus mencoba untuk selalu menghubungimu?
Mencoba menunggu hingga 1 tahun?
Selalu mendengarkan kisah cintamu, dan aku selalu tersenyum walaupun itu sakit?
Selalu berusaha bersabar untuk tetap menantimu?
Meluangkan waktuku hanya untuk membuatkan sebotol susu dan membuat sarapan untukmu?
Bersepeda saat hujan deras disaat kau merindukanku?
Membuat diriku berpenampilan bodoh hanya untuk membuatmu tertawa?
Menyisakan uang hasil kerjaku untuk membantumu?
Memberikan sesuatu yang fatal?

Untuk apa???

Jika aku memang tidak suka kepadamu. Mungkin aku tidak akan melakukan itu semua.

(Aku ini Playboy dan selalu mengatakan hal itu semua hanya untuk membuatmu percaya)

Aku nggak se-Bajingan itu juga...

Sejak saat itu, sejak aku mulai suka denganmu, aku sudah mulai mencoba untuk tidak membuatmu terluka. bahkan aku berbohong ke semua orang agar kau tidak terluka.

Dengan semua hal itu, aku kini berhak untuk memilikimu..
aku berhak selalu berjalan denganmu..
aku berhak selalu duduk disampingmu
bahkan berhak untuk cemburu.


Aku tidak tau harus berbuat apalagi untuk bisa selalu dekat denganku.
Aku ingin membuktikan bahwa aku sangat sayang padamu.
Saat pembuktian itu, Mungkin aku salah melakuannya. kesalahan sangat fatal??
Aku tidak tau..

Aku terlanjur melakukannya, aku tidak bisa jauh dari itu semua.
Ini akan menjadi hal yang paling menyakitkan.
Aku tidak janji akan berhasil.
Tapi aku akan mencobanya.


Thursday, July 4, 2013

3265 DPL (Long Day Story From Upper World)

Okay, now i will tell you our story at upper world in 3265 DPL (Above Sea Level). This our long day story from Lawu mountain, Indonesia. This not just an adventure, this not just a trip....
Sebelumnya gue kasih tau, Figure di balik cerita ini


Fitri (Gopek), Mirna,Yoan, Denata, Dicky, Binti, Vaiz, Rosyid, Oka, Vianda
Ten crazy teenagers
 Dimulai saat hari minggu. Pukul kurang lebih jam 9.30 malam, oka datang menjemputku. Aku yang hanya berpakaian baju lapangan pecinta alam dan celana loreng khas TNI-AD dan bersandingkan tas yang hanya berisi headlamp, sleeping bag, dan tenda dome, segera bergegas .  Mampir di minimarket dekat rumahku untuk membeli perlengkapan yang hanya sebatas mie instan, dan air putih 1liter.

Berangkat dari kota yang hangat ke kota yang dingin. Ditengah jalan, aku dan Oka bertemu dengan rombongan lain yang sudah menunggu di kantor PLN magetan. Kami ber-sepuluh melanjutkan perjalanan menuju Cemoro Sewu, dimana perjalanan panjang kami dimulai. Pukul kurang lebih jam 10 malam, kami sudah mencapai Cemoro Sewu. Sebenarnya kami ingin menginap satu malam dulu di Pos utama Cemoro Sewu.
Kami kurang cepat, kami melihat kurang lebih 15 orang sudah menempati pos itu. Akhirnya kami mendirikan tenda dome, di dekat tower radio milik pos utama Cemoro Kandang. Meskipun baru menempati pos utama, sudah terasa sekali dingin yang menerobos pakaian.  Dengan itu, kita akhiri malam dengan tidur dengan berpelukan dengan angin gunung.

Pagi, sekitar jam 5, kami semua sudah bangun. Menanti sunrise sederhana yang muncul di atas perumahan warga sekitar. Aku, oka dan yang lain melaksanakan sholat subuh dengan air yang sama dengan air es. Setelah kembali ke camp site pertama kami, langsung packing semua tenda yang kami dirikan kemarin malam. Lantas jam 7 kami keluar Cemoro Sewu untuk mencari sarapan. Kami hanya sarapan pecel dan segelas teh panas. Kau tau? Disana teh panas tidak terasa panas lagi di mulut. Perut terisi, kami pun melanjutkan perjalanan menuju 3265 DPL (puncak Lawu).

 Kami berjalan melalui batu-batu yang dijajar rapi agar kami tidak terjatuh atau terpeleset. Jalan yang kami lalui terdapat 6 pos. Dari pos utama ke pos 1 cukup menguras tenaga. Karena jalan yang menunjak dan perbekalan yang berat membuat kami beberapa kali berhenti untuk istirahat. Sesampainya di pos 1 kami hanya istirahat sejenak mengurangi penat. Setelah dirasa cukupkami melanjutkan perjalanan ke pos 2, lagi-lagi kami beberapa kali berhenti untuk beristirahat. Mungkin karena jarak antara pos 1 dan pos 2 yang sangat jauh dibandingkan ke pos-pos lainnya. Di tengah jalan menuju ke pos 2 terdapat jalan yang sangat curam hingga 45 derajat kemiringannya. Ini benar-benar menguras tenaga kami. Setelah melalui jalanan curam dan bentangan pohon kami sampai di pos 2. Disana kami bertemu dengan pendaki yang umurnya sudah tua dan tanpa alas kaki sekalipun. Melihat kondisi mereka, mereka terlihat sehat dan bugar. Di pos 2 kami makan hanya sekedar roti bungkus dari dicky. Tidak diduga ternyata di pos 2 tiba-tiba turun hujan. Akhirnya kita masuk pos yang hanya seperti  pendopo itu. Setelah hujan reda kami langsung bergegas menuju pos 3. Mulai dari pos 2 ini kami berjalan agak cepat karena takut hujan akan mengguyur kami lagi. Ternyata jarak dari pos 2 ke pos 3 tidak terlalu panjang. Namun kondisi pos 3 yang hanya setengah atap membuat kami tidak berlama-lama disana. Di sana kami bertemu dengan rombongan lain dari Universitas Atmajaya Yogyakarta. Orang dari Atmajaya yang sangat dekat dengan kami adalah mas Yoka yang jika bertemu dengan kami selalu mengajak main basket karena pada saat itu dia hanya memakai celana basket kuning yang terdapat gambar bintang berwarna ungu. Kami pun segera menuju ke pos 4 dengan kawan baru kami dari Yogya tersebut. Ditengah jalan menuju pos 4 kami terpisah dengan Oka, Denata, Mirna, dan gopek. Mereka ber-empat berada di depan kami. Rosyid yang daritadi sudah lapar segera berteriak memanggil ke empat orang itu agar berhenti di tempatnya.
“woii berhenti di tempat, sekarang!!!. ayo cari tempat memasak!! Disini banyak yang kelaparan!!”, beberapa kali Rosyid berteriak lantang.
Dan ternyata di tempat mereka berhenti, kami hanya bertemu dengan Gopek dan Mirna. Oka dan Denata sudah jauh didepan dan mungkin tidak mendengar teriakan Rosyid. Di tempat itu juga kami hanya memasak mie instan dengan telur rebus yang sudah matang dan lontong yang sebenarnya sudah bercampur air dan kita hanya memakan bagian dalamnya.
 Sambil memakan bekal kami bersenda gurau. Mengatakan bahwa lontong itu sebenarnya enak tapi tidak aman itu berhasil membuat kami disana tertawa. Tanpa mengulur waktu kami menuju pos 4. Di tengah jalan terdengar sayup-sayup suara Oka yang sudah nangkring diatas batu. Dia mengejek kami yang tega-teganya meninggalkan dia makan hanya dengan minuman sereal yang dia bawa. Dekat dengan Oka kami melihat kakak-kakak Atmajaya yang sepertinya menemani Oka disana. Kami juga berkenalan dengan kak Sisi yang di sebut oka sebagai kak Umbel, ada kak Ria juga yang namanya hampir sama dengan kakaknya Oka dan kakak-kakak lain. Akhirnya kami semua dari Madiun dan Yogya berangkat bersama melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Beberapa meter dari tempat Oka nangkring tadi, kami melihat Denata yang sudah berada di pos 4. Di pos 4 sudah terlihat bahwa kami berada di atas awan. Pemandangan yang sangat indah dan banyaknya bunga Edelweiss membuat kami merasa senang dan lega sudah berada di atas awan.
Disana kami berfoto ria dengan keindahan gunung Lawu. Dengan sampainya kami di pos 4 berarti sudah dekat dengan pos 5 dimana disana nanti kita dirikan tenda untuk menginap. Tidak ada 30 menit kami melewati jalan yang di samping kanan kirinya banyak bunga Edelweiss kami sampai di Pos 5 yang luas. Kami tiba disana pukul 5.30 sore. Segara kami mendirikan 2 tenda dome dan membuat perapian agar badan kami hangat. Kami juga makan mie instan lagi dan secangkir penuh minuman sereal. Segeralah setelah kenyang kami beranjak tidur agar segera dapat melihat sunrise diatas Gunung Lawu esok hari. Ternyata suhu dingin disana tidak membiarkanku tidur. Kakiku yang berada di dalam sleeping bag tidak mempan menahan suhu yang hampir 1 derajat celcius itu. Aku beberapa kali terbangun untuk menghangatkan kakiku yang sudah mulai membeku. Tiba-tiba Oka mengatakan padaku yang hingga saat ini masih kuingat.
“Jangan membawa sleeping bag kalau mau kesini lagi, nggak akan mempan menghangatkanmu. Bawa aja selimut yang ada bulunya agar hangat” katanya.
Akhirnya kami saling berbagi selimut agar hangat dan dapat segera tidur.

Hari selasa pagi. Sebenarnya kami ingin melihat sunrise dan segera pulang hari itu juga.
 Apadaya, kami hanya melihat awan yang tepat menyelimuti tenda kami. Sambil menanti awannya reda dan kami dapat melihat sunrise, kamipun berkumpul di satu tenda dan bergurau disana.

 Ampun, awan yang tidak reda-reda tersebut menjadi badai. Kami segera mengurungkan niat kami melihat sunrise pagi itu. Dengan berdesak-desakkan di dalam tenda yang hanya muat 8 orang itu kami mencoba menghangatkan diri. Angin selalu menghempaskan tenda dome yang kami tempati, beberapa kali tenda dome jatuh karena tidak kuat menahanangin yang sangat kencang. Frame tenda kami patah 2. Yang pada akhirnya tenda kami ikat pada ranting. Sama sekali tidak membantu, rantingnya patah dan kami hanya bisa menahan dome yang setengah rubuh itu dengan tangan kami. Oka, Denata, Dicky, Gopek dan Vinda mencoba untuk melawan badai untuk segera menuju ke mbok yem, tempat teraman di dekat pos 6 untuk mencari makan. Sedangkan aku, rosyid, yoan, mirna dan binti tetap di tenda untuk berjaga-jaga. Tidak lama, kami didera hujan yang sangat deras yang membuat tenda kami benar-benar rubuh sekarang. itu memaksa kami ber-5 segera pindah ke tenda yang muat hanya untuk 2 orang. Disana kami mencoba menghangatkan diri dengan sesuatu yang belum basah. Karena selimut dan sleeping bag yang kami pakai di tenda dome yang rubuh tadi, tidak sempat kami selamatkan dan akhirnya digenangi air.

“kita pulang hari ini?” tanyaku,
“mustahil jika dalam keadaan seperti ini is” yoan menjawab.
“yang penting sekarang kita berfikir bagaimana cara ke mbok yem” lanjutnya.

Sekitar pukul 1 siang lebih 15 menit Oka dan Dicky datang menyelamatkan kami. Kami yang terjebak di tengah badai segera dibantu mem-packing semua barang-barang dan segera ke mbok yem. Tanganku sudah mulai beku dan pembuluh darah halusku di tangan semua pecah, membuatku tidak dapat berlaku banyak. Setelah semua masuk tas carrier kami langsung menantang badai dan angin yang beberapa kali berhasil menghempaskan kami.  Dengan kekuatan yang tersisa kami berjalan melewati jalanan yang curam lagi, kurang dari 30 menit kami smpai di mbok yem. Aku lantas membanting tas carrier yang kubawadan segera merebahkan badanku yang sudah mulai lemah, begitupun yang lain. Terlihat yang baru datang di mbok yem benar-benar kelelahan. Tidak ada yang berhasil berdiri lagi, sesekali kami mencoba untuk menuju perapian untuk menghangatkan tangan. Terlalu dingginnya suhu badan ini sampai-sampai mampu di masukkan api yang membara, kak Sisi yang berada di sampingku sesekali berteriak karena takut akan kelakuanku yang memasukkan tangan ke api yang membara. Di dalam warung mbok yem kami bergurau bersama. Banyak dari pendaki menuju warung mbok yem untuk berlindung. Dari Solo, Jakarta, Ngawi, Magetan, Ponorogo ada semua. Ada juga Saka Bhayangkara dan Saka Wana Bhakti yang ikut berlindung di warung mbok yem. Malam tiba, aku, oka, dan semua rombonganku bercerita malam dengan mas Yoka dan mbak Ria dari Atmajaya, kami bersenda gurau disana. Bercerita mulai dari hantu gunung, lalu cerita film yang berkaitan dengan pendakian dan petualangan, merambak ke cerita warkop DKI, komik domba gila, bercerita tentang anak kos, sampai mengolok-olok guru di sekolah masing-masing. Sampai akhirnya kami lelah dan mencoba tidur. Lagi-lagi, aku harus terbangun beberapa kali karena kaki yang dingin membuatku tidak bisa tidur jenak.

Hari berganti, hari rabu. Kami harus segera pulang kalau tidak, bisa-bisa kami dihadang badai lagi, tapi sebelum itu kami ke puncak dulu bersama mas Yoka dan mbak Ria, jalannya asik karena kami bernyanyi dan bercanda sepanjang jalan menuju puncak. Sesampainya di puncak. Kami lagi-lagi tidak bisa melihat pemandangan karena awan kabut yang tebal. Tanpa banyak tingkah kami mengambil merah putih dan menyanyikannya di atas puncak lawu 3265 DPL itu, menyentuh sekali. Entahlah, tapi menyanyikan lagu indonesia raya di atas ketinggian 3265 DPL itu sangat kena sekali di hati. Sebelum kembali ke mbok yem kami sempatkan untuk berfoto dengan tugu puncak  J




 Lega rasanya bisa berpelukan dengan puncak. Kami kembali ke mbok yem dan packing. Kami harus segera pulang. Harus !!

Kami bersama rombongan Atmajaya akhirnya pulang bersama-sama. Tidak seperti hari pendakian. Hari kita turun sangat cepat, nggak kerasa dari pos 6 kami sampai ke pos 2. Beratri kami tidak berhenti di pos 5, 4, dan 3. Di pos 3 kami hanya bersiap-siap dengan mantel karena gerimis. Sampai di pos 2 ternyata gerimis itu menjadi hujan lebat. Kami kedinginan disana. Sempat di pos 2 kami memasak mie instan lagi agar punya kekuatan untuk turun gunung.  Karena tidak ingin mengulur waktu kami langsung berangkat lagi menerpa hujan yang deras itu. Langkah demi langkah kami tidak peduli. Yang ada di otak kami saat itu adalah harus segera pulang. Pos 1 telah kami lewati. Setelah pos 1 ada jalan memotong yang sangat licin namun lebih cepat, kami memilih melewati jalan itu. Tiba-tiba denata terperosok, kakinya terkilir dan harus dibalut. Untung ada Gopek yang cekatan dalam medis. Setelah kam=ki denata dibalut dia tak kuat untuk berjalan lagi, akhirnya oka, rosyid, mirna, vianda, dan binti melanjutkan perjalanan. Dan aku, dicky, yoan, dan gopek harus menolong denata untuk berjalan. Aku dan dicky bergantian memopong dan menggendong denata sepanjang perjalanan menuju ke pos utama di Cemoro Sewu. Yoan yang menjadi leader pun mengatakan Cemoro sewu tinggal belok kekiri lagi. Itu dia katakan beberapa kali.
“yo, mau ciuman sama pantofel’ku kah??” jengkelku.
Tapi memang benar setelah beberapa kali belok kekiri dan ke kanan dan kekiri lagi dan ke kanan sedikit lagi kami sampai di Cemoro sewu, Oka terlihat membawa sepeda motornyauntuk membawa denata. Sampailah kami di Cemoro sewu. Beristirahat dan segera pulang.


ini beberapa foto yang kami potretdari 3 kamera berbeda.






















Ini ceritaku, cerita kita, cerita kami, cerita untuk semua orang.
Jangan meremehkan alam, meskipun indah, namun bisa membunuh jika kalian tidak waspada.
Jangan takut dengan alam, karena banyak sekali cerita dibalik semua keindahannya.
Ingat pantangan

Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar
Jangan membakar sesuatu kecuali semangat
Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu
Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak

 Jejak kami tinggalkan di ketinggian 3265 DPL bersama cerita didalamnya.
Akan kami ukir lagi, di kemudian hari...

 

Blog Kawanku

  • *Oleh Kurnia Putri Utomo ( +kurnia putri utomo )* Sabtu, 1 Agustus 2015 pada pukul 05.30 tepat saya mengendarai motor bebek menuju ke warung nasi pecel yan...

Followers

Booo !! Buahahahaha It's Me Vaiz. Powered by Blogger.