"Kebanggan kita yang terbesar bukan karena tidak pernah gagal, namun bangkit kembali setiap kita jatuh" (Confusius)

Saturday, December 27, 2014

Crap !!

Weheeww, long time no see yawww...

Yup, it six-months-busier-ever lah dari semenjak gua masuk kuliah at the first time hingga saat ini.

Sekarang lagi berke"cemplung" di dunia persilatan Pariwisata. yah, namanya juga anak kepariwisataan di STPB kampus kami, wadah kami menuntut ilmu~~ *oldorganbacksound. Sudah aku post di postingan sebelumnya kalo gua sekarang tersesat di jalan yang benar *khitistyle.



Nggak kerasa udah hidup di The Burning City a.k.a Kota Bandung ini kiranya 6 bulan. Hidup bersama orang-orang baru di kampus dengan seribu macam persoalan dan permasalahan. Gua hidup bersama anak-anak Studi Destinasi Pariwisata 2014 dan selanjurnya disingkat SDP'14 atau bisa dikatakan Kelas Sarjana Kepariwisataan dan mempunyai julukan sendiri untuk angkatan '14 ini "Kelas Lambung Bocor". Kenapa? ke-29 murid di SDP'14 ini mempunyai kekurangan yang sama, PERUTNYA ! Yup, entaah dalam konteks apa kayaknya perut mereka tak akan pernah merasa kenyang. Mereka punya syndrom "Rakusjajan", kalaupun ada satu orang bawa jajanan ke kelas, jangan harap bisa menikmati jajanan yang kalian bawa karena para piranha ini nggak akan pandang bulu siapa yang bawa jajanannya. Tapi inilah yang membawa kita mempunyai cerita tersendiri. Mereka memang sulit untuk bersama dalam hal hangout bareng tapi kalau embel-embelnya makan bareng, entah apa yang akan terjadi. Gue bersyukur mempunyai mereka dengan bermacam sifat yang khas. Karena mereka yang memberikan cerita konyol terbaru yang bisa membuatku senang. Terima kasih semua :) Terima kasih KALAB :3

Oh, Sorry for short post xD ini penampakan mereka :3

Fieldtrip Pertama di Jakarta

Fieldtrip Kedua Di Bali

Foto Akhir Semester wkakaka

Thursday, July 17, 2014

Story Of Bagendul

Oke, kali ini aku pingin nge-posting sesuatu tentang kebosanan melanda anak pramuka di sekolahku. cerita ini dibuat saat perkemahan adik kelas. Cerita ini juga dibuat oleh  orang yang berbeda.  Niatnya mau buat cerita berantai. Jadi 1 orang akan menulis satu kalimat dan akan diteruskan oleh orang yang disebelahnya yang duduk melingkar. Orang pertama adalah Ratna K.R , Aku , Ezet (Erlian Zakia AA) , Zakky Z. , Oka N.R. , dan Dinda DN. Mereka saling berurutan menulis 1 kalimat.

Cerita menjadi tidak karuan dan tidak diharapkan.

Jika kalian adalah orang yang mempunyai mental kuat tak masalah dengan cerita ini. tapi yang nggak kuat harap pindah bacaan xD Karena ini masterpiece kenangan kami. So, enjoy it :3




Hari itu… Si bagendul jalan-jalan di tengah jembatan. Lalu, tiba-tiba dia bertemu polisi di jalan. Karena ketakutan dia ngompol. Sampe 2 ember. Air itu lagkemudian tak sengaja terminum temannya sendiri.  Temannya sangat menikmati air itu. Hoey, nggilani! Stop!

Ya, akhirnya Si Bagendul pun berteriak seperti itu dengan spontannya. Diapun merebut ember dari tangan temannya dan mengguyurkan sisa isinya ke polisi yang sedang berjaga. Karena masih haus, polisi itu kencing lagi. Namun, karena mereka terlalu lama berdebat di tengah jembatan, mereka tidak menyadari bahwa ada truk trailer yang melintas dengan cepat. Akhirnya mereka bertiga terlindas truk trailer dengan tragis, sehingga tubuh dan darah mereka berceceran di tengah jembatan. Bersambung hingga nggak ada yang pipis lagi. Setelah itu banyak orang datang menolong, karena merasa ngeri semua orang yang menolong kencing 2 ember. Ada wartawan yang datang meliput kejadian ini dan berita ini pun tersebar luas di masyarakat, semua orang yang menonton liputan ini merasa ngeri dan ikut-ikutan pipis…. Lalu kiamat terjadi dan berakhirlah semua cerita horor ini. Semoga mereka semua tenang di alam sana. Aamiin. Namun, ada seorang yang selamat dari kiamat itu karena dia tidak ikutan pipis, dan dia adalah orang terakhir yang mengemban tugas untuk mengindahkan bumi lagi tanpa pipis. Bertahun-tahun dia menahan pipis. Karena sikapnya yang berperilaku tidak sehat untuk menahan pipis selama bertahun-tahun maka meledaklah ****** miliknya karena sudah usang. Ya udah. Selesai, mau apa lagi coba?? Tiba-tiba datang dokter spesialis pipis. Kemudian dia me-reparasi itunya. Kini satu-satunya pemuda yang selamat dari kiamat telah beranjak dewasa dan telah bekerja sebagai tukang jagal kambing. Kemungkinan kambing itu dia dapatkan sebagai hadiah reparasi itu-nya.

Cerita Anak Bodoh

Udah pada tes universitas ini? Udah lihat SBMPTN yang muncul kemaren sore? Pasti hasilnya ada yang memuaskan dan ada yang mengenasakan. Yah guys, kalau kamu gagal SNMPTN trus ikut SBMPTN gagal trus patah semangat? Ada?

Tadi temenku ada yang berkata "Aku baru ggal 2 kali kok, belum sebanyak Albert Einstein". That's a failure spirit. Orang yang semangat untuk gagal berarti dia adalah orang yang siap untuk mencapai kesuksesan :)

Oh ya masalah ini aku mau mengungkapkan ceritaku. Kehidupan pendidikanku. Bagi kalian yang tahun depan ingin melaksanakan SNMPTN dan SBMPTN dan ingin lolos tanpa ada penyesalan atau jika gagal namun akan tetap mempunyai semangat juang, mungkin ceritaku ini bisa menginspirasi kalian :)

Sebelumnya, aku adalah anak dengan IQ pas-pasan dan sama sekali tidak pintar. Bodoh adalah titik tengah otakku. Meskipun banyak orang mengatakan bahwa aku ini cerdas, yaah, memang aku hanya bisa menggunakan "cerdas" itu sebagai tumpuanku dalam bersekolah.

Dimulai sejak SD. Aku bersekolah di MI Islamiyah Madiun. Sekolah setara SD ini memang menjadi favorit di Madiun. Siswa yang disaring masuk pun adalah siswa-siswa yang akan berprestasi nantinya. Bukan aku. Sekali lagi aku tidak termasuk dalam daftar itu. Saat SD aku hanya berfikir untuk melogika sesuatu. Memang terlihat seperti anak yang cerdas bukan? Tapi seluruh mata pelajaran aku tidak pernah bisa. Matematika, Ipa, Bahasa Indonesia, selalu mendapatkan nilai dibawah minimal. Tapi ada satu pelajaran yang aku mampu, Bahasa Inggris. Mulai itu aku selalu mempelajari bahasa inggris dan ogah-ogahan mempelajari pelajaran lain. beberapa kali orang tua harus dipanggil karena kebodohanku. Bukannya bermalas-malasan belajar, tapi setiap kali belajar aku selalu tidak berkonsentrasi yang menyebabkan sulit sekali mencerna pelajaran-pelajaran itu.

Masuk SMP. Aku diterima di sekolah bertaraf internasional namun masuk kelas reguler, itupun aku berada pada posisi 10 paling bawah. Pada waktu SMP tidak jauh beda dengan kehidupanku di SD. Selalu mendapatkan nilai terjelek. Lagi-lagi orang tua harus dipanggil karena kenakalanku dan nilai-nilai ku disekolah yang tidak memuaskan SAMA SEKALI ! Namun di SMP aku selalu belajaar sungguh-sungguh saat peajaran bahasa inggris. Ya, hanya itu peganganku, hanya itu harapanku.

SMA. Masuk tes di SMA RSBI dengan nilai bahasa inggris yang tinggi dan nilai pelajaran wajib yang rendah. Aku sangat bersyukur karena belajar sungguh-sungguh hanya bahasa inggris bisa membuatku mempunyai alasan untuk diterima di sekolah yang luar biasa itu. Mulai dari sini aku belajar bahwa meskipun hanya ahasa inggris yang aku bisa, aku bisa masuk ke sekolah favorit seperti ini. LAGI-LAGI di SMA !! Aku tidak pernah mendapat nilai bagus, nilai selalu hancur, tidak pernah mengerjakan tugas, ulangan selalu remidi, selalu mendapat rangking terbawah dikelas. Gila. Waktu SMA bahkan pernah divonis guru aku tidak bisa naik kelas. BAYANGPUN !! Yang aku bisa hanya bertingkah konyol dikelas agar teman-temanku mempunyai alasan menerimaku menjadi teman mereka, jika tidak mana mungkin mereka mau berteman denganku.

Ketika teman-temanku mulai bercerita tentang Universitas yang mereka idam-idamkan, aku hanya termenung, "kemana aku akan melanjutkan?" "mau jadi apa aku?". Meskipun aku sempat terprovokasi dengan mereka yang mengatakan bahwa, "Hei, univ ini keren, aku mau masuk univ itu biar sukses" "Hei, pasti aku jadi orang hebat kalo masuk univ ini". Yah, aku hanya menelan ludah saat mereka yang pintar bercerita tentang kesuksesan.

Di kelas 11 aku mengikuti kunjungan kampus ke UB, Universitas Brawijaya. Universitas yang teman-temanku idam-idamkan. Sekolah elit yang pasti akan dipuji jika berhasil lolos masuk di universitas itu. Universitas yang patut dibanggakan. Terbesit pikiran aku juga ingin masuk di universitas itu dengan prodi yang agak susah juga, "Ilmu Komunikasi". Namun kandas, aku sudah mencoba untuk membenarkan dan menaikkan nilai-nilaiku agar bisa masuk Universitas kebanggaan itu. Apa daya, aku gagal. Bahkan insiden itu membuatku terkena vonis aku tidak akan naik ke kelas 12. Sekeras aku belajar guna menaikkan nilaiku di sekolah malah membuatku lelah dan akhirnya terkena vonis seperti itu.

Aku mulai lelah, aku mulai gusar, aku mulai hancur.

Akhirnya tuhan memberikan cahyanya melalui ayahku. "Nak, kenapa kamu nggak nyoba di sekolah pariwisata di bali itu?"

Aku tidak yakin. Bahkan sekolah itu tidak terkenal, tidak seperti UB yang wow banget. Aku mulai berfikir, daripada nantinya aku tidak melanjutkan kuliah, apa boleh buat? Aku mulai cek tes yang di ujikan waktu penerimaan. Bahasa Inggris dan Psikotest ! Otakku mulai aktif lagi. Mungkin sekolah ini yang bisa menerimaku yang hanya bisa bahasa inggris. Akhirnya aku meminta persetujuan orang tuaku. KANDAS KAWAN !! Ibuku tidak membolehkanku sekolah di Bali dengan alasan disana pergaulannya jelek. Aku merenung lagi. Aku mencari sekolah yang sejenis. Ketemulah STP Bandung. Ibuku mengiyakan dan ayahku setuju. Meskipun aku sedikit kecewa dan pesimis tidak berhasil masuk ke UB yang aku banggakan itu, aku harus menerimanya.

Waktu kelas 12 seluruh siswa harus mendaftar SNMPTN. Yah, aku yang saat itu tengah hancur karena pesimis tidak akan lolos UB terpaksa mengisi data. Namun malam sebelumnya aku bertanya pada orang tuaku masalah prodi yang aku pilih nanti. Akhirnya dengan melihat kemampuanku sendiri aku memilih UNS Ilmu Komunikasi karena cita-citaku yang kandas, UNS Sastra Inggris karena aku hanya bisa bahasa inggris dan UNAIR Ilmu Komunikasi untuk pilihan mepet karena harus pilih 3. Kenapa aku tidak memilih UB? Aku mengetahui kemampuanku, aku tau batas kemampuanku, kali ini aku tidak menginginkan pujian, aku hanya ingin kejelasaan bahwa aku akan masuk kuliah, aku tidak ingin mengecewakan orang tua, aku tidak ingin kecewa, aku ingin belajar dengan keterbatasan kemampuanku, aku tidak ingin egois, aku tidak ingin sok-sokan. Dan itulah alasan kenapa aku memilih UNS dan UNAIR yang saat itu berada dibawah UB. Toh aku juga pesimis melihat nilai rapotku yang sedang-sedang aja bahkan mengenaskan. Dan nantinya aku tidak akan terlalu jauh untuk jatuh ketika tidak lolos SNMPTN.

UN. Sempat menjadi orang pesimis yang sedang pesimis saat pesimis. Aku hanya bisa menjawab 5 soal matematika !!!!

Namun aku masih bisa lulus UN dengan nilai yang tidak begitu memuaskan namun cukuplah untuk orang bodoh aneh sepertiku. Dan melihat teman-temanku mendapatkan danem yang bagus-bagus, aku hanya bisa mengucapkan selamat kepada mereka :')

Pada saat tes STP Bandung, aku memilih jurusan Studi Destinasi Pariwisata sebagai pilihan pertama karena ibukku menyuruhku memilih S1 dan D3 Manajemen Tata Boga sebagai pilihan ke 2 karena aku hanya bisa memasak. Pada penjelasan akademik datanglah profesor dari SDP dan mengatakan "kalian yang memilih SDP ada sekitar 327 orang. Dan jika kalian berhasil masuk ke prodi SDP kalian adalah orang-orang jenius yang terpilih. Karena SDP hanya menampung 1 kelas dan hanya menerima 30 orang. SDP juga adalah prodi unggulan Pariwisata di STP Bandung". Mendengar pernyataan tersebut aku down lagi. Untungnya pilihan nanti akan bisa diganti pada saat sesi wawancara.

Pada saat sesi wawancara aku mengganti pilihan prodiku ke D3 Manajemen Destinasi Pariwisata dan pada pilihan ke 2 tetap. Pada surat pernyataan tersebut ada opsi yang terlulis "Saya bersedia ditempatkan dimanapun sesuai dengan hasil tes yang keluar dan atas keputusan dosen pewawancara". Aku percaya akan lolos tes dengan kemampuanku entah dimanapun prodiku dan pada akhirnya aku centang pada pernyataan itu. Setelah semua tes berakhir aku hanya bisa pasrah saat itu dan harus percaya bahwa aku akan diterima di STP entah pada prodi apapun.

Pada saat pengumuman Alhamdullillah sekeras-kerasnya bagi Allah yang maha adil yang selalu memberikan petunjuk bagi hambanya yang berusaha. Aku lolos STP Bandung dengan prodi yang mengejutkan ! Ya ! Pilihan pertamaku, pilihan yang aku anggap aku tidak bisa melampauinya, SDP ! Ibu ayahku menangis terharu melihat anaknya yang bodoh ini lolos tes dengan prodi yang sangat sulit ditembus. Dan kabar mengejutkan kembali tersebar ke esokan harinya. Lolos SNMPTN UNS S1 Sastra Inggris. Ini sebuah hadiah yang sangat indah. Dan pada akhirnya aku memilih STP sebagai sekolah lanjutanku dan mengirimkan surat pengunduran diri ke UNS.


INTINYA. :
Bagi kalian yang memilih prodi pada SNMPTN atau SBMPTN, pilihlah yang menurut kemampuan kalian bisa melampauinya. Jangan egois memilih. Agar kalian tidak terlalu jauh untuk jatuh. Pastikan juga restu orang tua. Itulah yang paling penting. Ingat kemampuanmu, ingat kecepatanmu, selalu berikhtiar menyerahkan diri ke Tuhan yang maha adil. Pilihlah prodi yang jarang dipilih, karena pasti lulusannya akan ditunggu-tunggu bagi yang membutuhkan dan lowongan pekerjaan pasti melimpah.

Semangat selalu bagi kalian para pejuang nantinya :) semoga bisa memetik sesuatu dari kisahku :) See you at another level of life :D

Sunday, June 29, 2014

Pemilihan Presiden 2014

Ramai sekarang gencar-gencarnya semua masyarakat Indonesia membicarakan tentang Pemilihan Presiden tahun 2014. Ya, memah hal yang musi dibicarakan sih karena ini menyangkut masalah masa depan bangsa Indonesia kita ini

Tahun ini pemilihan prasiden hanya iikuti 2 kandidat capres dan cawapres. Yaitu,
Nomer Urut 1  : Prabowo Subianto - Hatta Rajasa
Nomer Urut 2 : Joko Widodo - Jusuf Kalla

Nah, untuk itu aku sebagai pemilih yang sah ditanggal 9 Juli itu aku wajib menyumbangkan siapa yang menurutku pasntas dan diperlukan untuk memimpin Indonesia kelak 5 tahun kedepan. Untuk awalnya aku memilih Jokowi tapi setelah dijelaskan oleh temenku akhirnya keputusan akhirku menuju ke Prabowo. Mengapa?

Aku disini memilih Prabowo karena masalah National Border. Menurutku hal inilah yang diperlukan negara ini saat ini. Untuk para pendukung Jokowi yang membaca artikel ini untuk tenang. Disini aku hanya menjelaskan mengapa aku memilih Prabowo dengan sudut pandang keamanan dan keutuhan NKRI.

Dilihat dari latar belakang pak Prabowo adalah militer. Ya, ini yaang berhasil mendoktrinku untuk memilih pak Prabowo. Bahkan aku sempat membaca artikel bahwa jika pak Prabowo berhasil menjadi presiden, akan ada kecanggungan hubungan antara Indonesia dengan Amerika. Karena Prabowo sangat disegani oleh Amerika Serikat. NAH !! inilah kode selanjutnya agar kebusukan Amerika bisa berhenti mengembargo ALUTSISTA (Alat Utama Sistem Persenjataan) Indonesia. Selama ini bangsa kita sudah di embargo pesawat oleh amerika seperti pengadaan pesawat tempur F-16. Amerika memberikan hibahan F-16 ke Indonesia dengan syarat-syarat yang rumit. F-16 yang mereka berikan juga bekas yang harus diganti spare part nya. Ini yang sebenarnya jika kita memandang jangka panjangnya akan merugikan Indonesia karena harus terus membeli spare part pesawat tempur yang high cost.

Denger-denger kalau Prabowo jadi presiden nanti masalah Freeport akan segera dihentikan kontraknya dengan Amerika agar hasil dari tambang Freeport bisa seutuhnya bisa dinikmati oleh bangsa kita sendiri.

DAN

Indonesia terletak di tengah-tengah negara-negara persemakmuran Inggris !! seperti Singapore, Malaysia, Brunei Darussalam, Australia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini. Baca http://id.wikipedia.org/wiki/Negara-Negara_Persemakmuran. Untuk pertahanan atau jika sewaktu-waktu kita ada perang dunia ke 3 (semoga tidak dan hanya untuk berjaga-jaga) Indonesia akan menjadi target utama dalam perang itu. Karena Indonesia yang bukan negara persemakmuran dan kekayaan alam di Indonesia, pasti !! Indonesia akan kembali dijarah negara eropa. Dan jika alutsista kita kebanyakan dari Amerika, alhasil bantuan persenjataan akan dihentikan dan Indonesia akan mudah di lenyapkan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah menyandarkan diri ke Russia. Jangan dilihat bahwa mereka komunis !! Russia memang menganut komunisme tapi disini kita tegaskan untuk bantuan senjata dan alutsista. Russia tidak akan segan segan membantu Indonesia untuk peperangan melawan Amerika atau Inggris karena mereka juga tidak menyukai kedua negara tersebut. Russia juga pernah membantu menggertak Belanda di Papua dengan bantuan 3 kapal induk dan puluhan light battle ship permintaan Soekarno. Dengan begitu kita akan diselamatkan dari ancaman negara Amerika dan Inggris.

Dan itu hanya bisa dilakukan oleh Pak Prabowo karena notabene pak prabowo yang mengerti betul tentang militer.

Yah, itulah mengapa saya memilih Prabowo menjadi Presiden 5 tahun kedepan :)

Tuesday, December 10, 2013

Pertamina Akan Bangun Menara Tertinggi ke-9 Di Dunia


Pertamina Energy Tower, Tertinggi Nomor 9 di Dunia, Kalahkan Jauh Petronas Tower di Kuala Lumpur

Selasa, 10-12-2013
PT Pertamina (Persero) telah memulai retasan impian membangun salah satu pencakar langit tertinggi di Indonesia yang ditandai peletakan batu pertama, Senin (9/12/2013) kemarin.

Pencakar langit ini bernama Pertamina Energy Tower. Lokasinya berada di kawasan superblok Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan mengatakan, gedung kebanggaan Pertamina itu memiliki ketinggian 530 meter dan berisi 99 lantai.

“Luas total bangunannya mencapai 540.000 meter persegi dan akan difungsikan sebagai kantor pusat Pertamina dan anak-anak usahanya dengan kapasitas 23.000 karyawan," tutur Karen.

Ketinggian Pertamina Energy Tower masih kalah menjulang jika dibandingkan dengan menara lainnya di dunia, baik yang sudah terbangun maupun sedang dalam tahap konstruksi. Menurut Council on Tall Building and Urban Habitat (CTBUH), Pertamina Energy Tower akan menempati peringkat 9 dunia.

Sembilan teratas supertall dan megatall dunia tersebut sebagai berikut:

1. Kingdom Tower Jeddah, Arab Saudi, (1.000 m)
2. Burj Khalifa Dubai, Uni Emirat Arab, (828 m)
3. Ping An Finance Shenzhen, China, (660 m)
4. Wuhan Greenland Center, China, (636 m)
5. Makkah Royal Clock Tower, Arab Saudi, (601 m)
6. Goldin Finance 117 Tianjin, China, (597 m)
7. One World Trade Center New York, Amerika Serikat, (541 m)
8. CTF Guangzhou, China, (530 m)
9. Pertamina Energy Tower Jakarta, Indonesia, (530 m).

Posisi 9 terjangkung dunia ini pun bakal berubah saat Signature Tower Jakarta (STJ) memulai konstruksinya yang dijanjikan Agustus 2014 mendatang. Ketinggian menara yang dikembangkan Artha Graha Group melalui Grahamas Adisentosa ini mengangkasa hingga 638 meter (111 lantai).

Managing Director Pandega Desain Weharima, arsitek dan mitra lokal Smallwood, Reynolds, Stewart, Stewart and Associates Inc (desainer STJ), Tiyok Prasetyoadi, mengungkapkan, pada Januari 2014 STJ akan melakukan uji beban.

"Begitu block plan rampung, kami akan langsung melanjutkan dengan uji beban. Kami tinggal menunggu IMB yang keluar pada Juni 2014. Sementara restu dari Dinas Tata Ruang sudah kami kantongi," ujar Tiyok kepada Kompas.com, Senin (9/12/2013).

Pertamina Energy Tower sendiri dijadwalkan dapat beroperasi pada 2020 mendatang, seiring dengan ambisi sebagai perusahaan energi terbesar di Asia Tenggara pada 2025 (ASEAN Energy Champion).

Selamat Ulang Tahun Emas Ke-50 Pertamina


Wednesday, November 27, 2013

A Blue Dove For The Princess


Chapter I, "The Beginning"


Once upon a time...
There lived a dove in a castle in a country where green and warmth prevailed. The dove had been taken care of by a princess since she found the young dove injured in the castle’s garden. The dove was injured so badly that he felt like his wings were about to be torn off. The pain was all over his body and he could do nothing, but lay himself on a leaf bedIt was the princess who saved him. She carried him into a small cage, which was hanging in a window in the corner on the house. Despite living inside the cage, he was far from frustration. The princess always gave him close attention and the scenery through the window was wonderful. More importantly, he could enjoy watching every move she made. Having recovered from the injury, he became healthy enough to jump around inside the cage. 

Chapter II, "Disease of the Princess"

The dove was so happy with the days there and hoped that it would continue for good; but at some point everything began to change. The princess, who was always in good shape and made it a habit to come visit him many times a day; did not show up even once on that day, She did not come up and feed him until the end of day.
On the following day, early in the morning, the dove saw many noblemen gather around the princess. They all had an anxious look on their faces. It seemed that the princess had a disease. She may not be able to get well. She may possibly pass away. How can this happen when the neighboring country just ceased warfare? How can this be when peace of the world is close at hand? The men were talking about all of this.
"The Demon of Razgriz!" One of them suddenly spoke up in a loud voice. "When history witnesses a great change, Razgriz reveals itself, first at a dark demon. As a demon, it uses its power to rain death upon the land and then it dies". "However after a period of great slumber, Razgriz returns, this time as a great hero."
"Only the Demon of Razgriz can do this to her!"
Thinking about how healthy she looked on the previous day and how seriously these men cared about her, the dove felt uneasy more than ever. She may disappear. She may not wake up to come see me. These sad feelings lingered on in his mind.

Chapter III, "Thoughts of a Dove"

While caring about the princess and looking back upon the days spent with her, an old memory flashed across the dove’s mind. It was the story that his mother told him before she died. “Somewhere in the world is a big tree, known as the Orion Poplar and its magical fruits can cure every injury and every disease. It is far, far away; deep down in the rocky mountains that no man can ever set foot in”.
“That magic fruit can cure the disease and save her life”, the dove thought. “She will be well if I can get one.” Though the more he thought of it, the less confident he felt. “Can I escape the hawk and peregrine if they come after me? Can I fly to the mountains so far away and then fly over them? Can I simply fly for such a long time? Can I really carry the fruit with this small beak of mine, even if I am lucky enough to get there? Can I manage to make it back in one piece?”
He could not help having these bad feelings deep inside of himself. There was no blaming him for this. Having been protected all the time by the princess, since his injury, all he did was reside in his tiny little bird cage. In the mean time, the princess became worse, day by day.
The next morning, an old nursemaid came to feed the dove on behalf of the princess. She opened the cage just a little to feed the dove. He was watching her do it with a determined look on his face, waiting for his chance. Then, he took the chance and got out of the cage. Flying through the room’s door and flying across the castle’s walls, the dove was heading for the sky high above. He heard the nursemaid shout “O' dear!” from behind.
Was he finally free from the fear of the hawk and the peregrine? Definitely not. Had he the idea of what course to take? Absolutely not. Nevertheless, he took desperate flight in pursuit of the magic fruit.

Chapter IV, "Lark"

The dove first reached a forest to the north of the castle. “Looks like you are in such a hurry, but your flying is not smooth,” said a lark which had just flew quickly from behind him. “No wonder. I’ve lived in a cage for a long time. I’m proud that I can somehow manage to fly”, the dove answered back. “Cage is no good”, the lark said abruptly, “We’ve got wings, right? They can take you anywhere you want at anytime you want. That’s how it should be. Look at the world. It’s so big.” He asked the lark, “Don’t you think the sky is dangerous? There are hawks and peregrines up here. What if they come after you? And on the ground are foxes, raccoons, dogs and cats.”
“Let me ask you something. Can you eat something you want to eat, if you are confined in a cage?" the lark asked. “One day you feel like eating worms and the other day you want to have some rosehips. Suppose you no longer have someone to feed you. There is not point in talking about, 'safe' and, 'dangerous' then. It is if, 'you' or, 'someone else' when you go through with something, that counts.”
“Is it good to know that the world is so big?” The dove asked in response.
“The world is what your eyes can see. It then becomes your world. So, knowing more will make you better. You can count on it”, the lark said all of this neatly, but seriously. The dove said to the lark, “I am searching for a magic fruit. “Ain’t got no clue. Why don’t you ask that green worm down there? O’ what a pity! I never want to be something like that. It can move but, all it can get a hand on is a single tree. That tree is the entire world to that thing,” the lark said, gliding freely.
The dove looked down and found something green crawling on a tree down below him.

Chapter V, "Green Worm"

“I myself can fly. I know I don’t fly as high as you do, but I can fly,” the green worm suddenly said to the dove.

“You have no wings, so you can’t just fly”, the dove said to the worm. “You are wrong” the worm said, “I can. I can become a pupa and I will have my wings. That’s why I can fly.” “But, not for now” said the dove.
“There is no difference between flying today and flying tomorrow. You couldn’t fly either when you were an egg, could you? When I become a pupa, I will have wings myself. The size of my wings is the same as that of my memory I obtain before I turn into a pupa. Once I have wings, my legs become small and weak. Then I will not be able to walk around like this. That’s why I keep watching everything about this tree”, the green worm finished.
“I am searching for a tree that bears magic fruit,” the dove said to the worm.
“I met a tortoise here. He looked wise. He told me that he would usually hang about at the lakeside beyond this forest. He probably knows something about it. He may be wise, but he has to be locked up in his carapace until he dies. He will not have wings. His memory is as old as his age. It remains forever.”
Far, far away, just over the forest; there was a lake shining under the light of the sunset.

Chapter VI, "Tortoise"

On arriving at the lake, the dove met the tortoise. “It is good to have a carapace. This has enabled me to survive a lot of dangers. There are some birds that wear a carapace, aren’t there?”
“You mean a cage? Its not like yours. It bans us from going outside. Many of us want out of the cages. I was once in one too,” the dove explained to the tortoise. “Why on earth did you get out of it and jeopardize yourself?” the tortoise asked, confused. “The best was to live long is to stay away from anything dangerous. Hazards can hit you, even if there is nothing to be blamed on, on your end. When you are in trouble, you need… to be… like this. Wait until everything subsides. Don’t even think about moving around, “ the tortoise said, folding his limbs into his carapace.
“It is no solution!” the dove protested. “Well!” said the tortoise with a loud voice,” Can every problem be solved? Are you sure of it so much? Everything has its end, good or bad. When the sun is shining, you better enjoy as much sunlight as you can. In the ice cold winter that freezes your tear drops, you must endure with everything you’ve got. The sun will rise again. We are mortals and that is all mortals can do. “ The tortoise paused.
“Hmm? A strange wind has begun to blow. I have a feeling that something wicked is coming,” he said as he pulled his head into his carapace. “There are rocky mountains far beyond the other end of this lake. Can you see them? The fourth peak from the top of the highest mountain in the middle. Go there.”
The dove took a look towards the mountains off in the distance. It was so far away, its image was blurred. “Believe!” the tortoise said, “Believe, whatever it may be. I believe in this impregnable carapace of mine, more than a magic fruit.”

Chapter VII, "Old Tree"

When the dove struggled and made his way, at last, to the mountain an old tree began to speak up to him. "An ominous wind is blowing. Is it finally here? Has time come for an old tree like me to fall down? The Demon of Razgriz … hmmm … a great hero this time?" 

“What is it?” The dove asked with a calm voice. “When history witnesses a great change, Razgriz reveals itself. First as a dark demon”. The tree began to tell the same story that the dove heard at the castle. “As a demon, it uses its power to rain death upon the land, the it dies. However, after a period of great slumber, Razgriz reveals itself, this time as a great hero.”
“Demon? Hero? What does it do?” The dove asked. “When I saw it for the first time, I was young and thin. I had fewer branches then. In those days, humans often battled against each other. Razgriz not only brought about a tempest which kept raging for seventy days but also kept scattering hailstones from above. Trees and grass perished and nothing was left for the humans and animals to live on. Consequently, the soil was in ruins. All living things died, one after another. My friends, four legged beasts, humans and birds like you. Everything in this land was deprived of breath. In the end, Razgriz murdered none other than itself. Shortly after, this piece turned into nothingness.”
“It was an evil being, wasn’t it?” the dove asked the tree. “Nay,” the old tree answered, as if he was uncertain himself. He exhaled and took a deep breath.
“This story still continues. After a long, long time passed since the land had died, there was a traveler. The traveler cured those who suffered from disease, resurrected the soil, gathered all those people who sheltered themselves away from here and founded a village and a town. The rivers were full of water. The soil became a wheat field. This land was once again at peace. There upon, the traveler decided to leave the village. The villagers were far from happy about this. At the moment of departure, they heard the traveler say, “I am… Razgriz”. This marks the end of this story."
“I am here in need of a magic fruit”, the dove finally told the tree. “…Alright. There are few fruits left for me to give. You can take one though. By the way, have you any idea why this is called magic fruit?” the tree asked the dove. The dove remained silent, gazing at the old tree. “This can become not only a medicine, but also a poison. Or rather, this may be no more than a fruit and this may even change to stone.”
“What do you mean?” The dove said, puzzled. The old tree simply replied, “This fruit will become what you believe it to be”. The dove turned around to look at the castle, holding the fruit in its mouth. Even beyond the furthest hill, it was still unseen.
“The ominous wind is blowing”, the old tree said staring at the sky. “Fly carefully home”.

Chapter VIII, "Demon From Above"


The dove gave gratitude and said farewell to the old tree.
Dragging his numb body upwards, the dove flapped his wings and flew towards the castle where the princess lived. It flew up and up, weaving through the forest, breaking through the clouds, up to where it could catch the wind.
Although the tail wind it was hoping for did not come, the dove drummed up all of its power and kept flapping, holding the, “miracle that can cure any illness” tightly in its beak.
He left the rocky mountains with the magic fruit tightly in his beak. The wind began to blow even stronger. The Dove then found himself flying through a storm and hailstones. In spite of the terrible weather, he needed to return home as quickly as possible. He spread out his wings.

Chapter IX, "Magic Fruit"

Although the wind turned the tides against him time and time again, he had to try to get back home, to the castle where the princess was waiting. Flying up and flying high, weaving throughout the forests and breaking through the clouds, in order to catch the wind which would carry him home.
Down below ran the river towards the horizon. Far beyond the horizon were a forest and a castle which looked familiar to him. Just a little bit more! thought the dove. Just a little bit more and I will see the princess! Our happy days are about to begin again!

Chapter X, "Returning Home"

On arriving at the castle at last, the dove saw people gather and surround the princess in bed. There were more people than last time. All the people were weeping with a grave and sad look on their faces. Above all, the king was crying out in sorrow. His crying was almost a groan.
The Dove did not arrive in time. The princess had been gone and he felt so sad. However, he never felt sorry for what he had done. He repented nothing, because her face was so calm. He could tell from the way she looked that she never lost hope to the end and she loved the world.
The Dove, fully exhausted from the do-or-die journey, fell asleep feeling sorrow but somewhat calm.

Chapter XI, "The Ending"

In the following morning, on entering the room, the nursemaid found the dove’s body resting in peace beside the princess. She twisted her face in surprise and said in a very loud voice, “O’ my! Is this her little dove? How come? He was injured and couldn’t flap since then. These wings were certainly deformed and disabled. How did he set off and even come back? What a surprise!”
The dove was still holding the fruit of orion poplar in his beak, even after he passed away. The nursemaid decided to place it in the middle of the garden right under the window of the princess’ room.
In time, it grew to be a big and thick tree with a lot of branches. It is said that from the top of the tree, the princess’s room and her bird cage can be clearly and closely seen.

Friday, August 16, 2013

Think That !

August, 17th 1945.
Semua orang tau tanggal itu. Semua rakyat Indonesia. Seluruh pejuang. Pejuang bangsa. Tanggal ketika pidato proklamasi yang dikumandangkan sang proklamator Ir. Soekarno berkumandang hebat mengudara. Melewati jalur-jalur frekuensi radio hingga ke seluruh pelosok negri. Dimana bendera dwiwarna sang saka merah putih jahitan ibu Fatmawati berkibar diantara kicauan burung yang mendampingi lagu kebangsaan kita, Indonesia Raya.

Ini permasalahannya.

Kita tau bahwa sebelum kemerdekaan, para pejuang dan bahkat rakyat Indonesia berjuang mati-matian memerdekakan negara kita dari jajahan jepang maupun belanda. Mereka rela mati agar para penjajah dapat meninggalkan bumi pertiwi. Memang mudah mengatakan seperti itu di jaman yang merdeka seperti ini. Tapi bagi mereka?? Ini adalah masalah harga diri. Mereka berjuang bukan hanya memikirkan harga diri mereka sendiri. Mereka juga membawa harga diri bangsa kita. Terngingang-ngiang di pemikiran mereka, “Kapan kita bisa bebas? Kapan kita bisa menghirup udara segar tanpa penjajah? Kapan? ”. Sempat-sempatnya mereka berfikir seperti itu ditengah-tengah ribuan peluru yang melesat cepat diantara kepala mereka. Bahkan diantara ambang hidup atau mati. Tapi yang pasti mereka tidak memikirkan hal itu. Yang mereka pikirkan adalah menjadi orang yang berguna yang bisa membawa kita menuju gerbang kemerdekan Indonesia.


Pikir lagi! Betapa susahnya hidup pada masa penjajahan. Betapa susahnya mencari kebebasan.

Sekarang? Kita sudah merdeka dari penjajah, kita sudah bebas tanpa memikirkan mati tertembak peluru penjajah.



Sekarang apa yang kita perlu fikirkan? Jika sudah tau bagaimana susahnya merebut kemerdekaan, paling tidak kita hargai perjuangan mereka, goddammit ! Jangan seenak-enaknya saja berfikir kemerdekaan ini tanpa pengorbanan. Kita tinggal semena-mena berleha-leha dengan semua ini.

Hei, bagi kalian pelajar dan kaum muda. Jika kalian hanya mengeluh mengikuti upacara yang diselenggarakan tiap tanggal 17, apa kalian akan senang jika disuruh membawa senjata dan melawan penjajah, ha?? Pikir lagi!! Jangan meremehkan upacara bendera. Kalian disuruh berdiri hormat kepada Merah Putih nggak lebih dari 30 menit udah ngeluh. Sombong banget kalian ha? Mentang-mentang udah nggak mikir pemjajah terus kalian bisa seenaknya sendiri?

Kalian yang suka tawuran. Hei, daripada kekuatan kalian yang kalian bangga-banggakan itu dihambur-hamburkan untuk melawan sesama pelajar, kenapa nggak kalian gunakan untuk ikut tes militer?? Lagipula apa mafaatnya coba, kalian hanya menyakiti satu sama lain. Sialan, udah mulai jagoan?? Otak udah miring semua ya??

Ini nih yang paling kurang ajar. Pejabat pejabat tikus busuk ! entahlah apa yang ada dipikiran mereka. Menjadikan negara ini lebih baik atau hanya uang uang uang saja. Koruptor dimana-mana. Sial! Hukum sekarang lembek banget, kurangnya penegasan, semua bisa dibeli dengan uang. Gila.
Untuk masyarakat juga. Jangan hanya masa bodoh dengan semua permasalahan yang ada. Mari sama-sama membangun negara ini. Jangan seenaknya saja membantah peraturan yang telah dibuat. Jika peraturan itu menyimpang, mari kita tegur baik-baik. Jika peraturan itu layak, mari kita laksanakan sama-sama. Itu untuk kebaikan kita semua. Bukan mau sok nasionalis atau sok benar sendiri. Tapi memang itu kenyataan, kita berada di negara ini dengan peraturan agar kita hidup damai bermartabat satu sama lain.

Mari kita sama-sama membangun Indonesia menjadi negara yang disegani. Jaga budaya kita, itulah jantung kita. Hilangkan ego individualis. Satukan jiwa. Jangan mudah terpengaruh oleh omongan orang. Bepegang teguh pada agama masing masing. Pondasi Bhineka Tunggal Ika harus kita J
junjung. Bangga terhadap produk dalam negeri. Membayar pajak untuk fasilitas kita.


Dirgahayu Indonesiaku, Dirgahayu para pejuangmu. 

 

Blog Kawanku

  • *Oleh Kurnia Putri Utomo ( +kurnia putri utomo )* Sabtu, 1 Agustus 2015 pada pukul 05.30 tepat saya mengendarai motor bebek menuju ke warung nasi pecel yan...

Followers

Booo !! Buahahahaha It's Me Vaiz. Powered by Blogger.